Thursday, 21 June 2012

Curhat [Calon] Penulis Beken #1

Hahahahaha, a'ight. Aku tahu this blog post's title is similar to salah satu buku terbitan tahun 2009 lalu, 25 Curhat Calon Penulis Beken oleh Triani Retno A (which, BTW, juga jadi nama grup FB mbak Eno), tapi aku emang nyomot dari sana karena beberapa alasan: blog post ini isinya curhatanku (aku gak berani bilang tips nulis, maksudku, siapa aku?) tentang tentang prosesku yang tertatih-tatih untuk menjadi seorang penulis beken (AMIN YA ALLAH). Like someone said to me: Berlarilah. Kalau kamu tidak bisa berlari, maka berjalanlah. Kalau kamu tidak berjalan, maka merangkaklah. Lakukan apapun itu selama kamu masih terus bergerak maju. Dan aku yang masih dalam proses mendisiplinkan diri mungkin sekarang lagi ngesot kali ya? Yah, asal gak ditemenin sama Suster Ngesot gapapa deh #krik

Aku buat ini gara-gara aku lagi bingung mau gimana ngelanjutin novelku. Yep. novel. Banyak orang udah bilang sama aku, jangan mulai langsung ke novel, coba aja dari cerpen dulu. Masalahnya aku gak bisa. Bukannya aku sombong atau apa nih ya, tapi istilahnya aku tuh penulis napas menengah; jadi aku gak bisa nulis yang cuma sesingkat cerpen, karena kalau cerpen udah tertanam di kepalaku ceritanya harus pendek. Alhasil mandek duluan. Pernah aku coba untuk gak dipikirin jadi pendek alias gimana nanti aja, eh malah jadinya 25 halaman dan itu bahkan belum masuk konflik utama. Singkat kata, the shorty turns into a novel! *jedokin kepala ke bantal*

Sekarang aku lagi ngurus beberapa proyek novelku, tapi lebih fokus pada dua. Kenapa dua? Soalnya kedua buku itu sebenarnya semacam buku seri (tapi PoV tokohnya beda), dan buku pertamanya lagi ku-remake sementara buku pertama memang sedang aku buahi (setdah bahasa apaan neh!?). Maksudnya dibuahi itu lagi dibuat gitu lho, ah kamu pikirannya ke mana aja sih Dill. Ih biarin kok elo yang ripuh? Ya lo itu gue dan gue itu elo tau -___________-

Masalahnya: aku gak mungkin ngelanjutin buku dua kalau buku pertama belum selesai dengan tuntas. Iya, kan? Jadi remake buku pertama harus kuselesaikan dulu, tapi ide untuk buku dua tetep aku tuangin. Aku bukan penulis yang suka pake kerangka/draft gitu. Aku gak ngerti. Pernah nyoba dan aku justru bingung gimana dan apa maksud dari draft itu. Jadi, secara pribadi nih, buatku draft didn't work to me, it's useless. Buatku lho ya, orang kan beda-beda. Aku lebih suka menulis secara spontan tanpa kerangka apapun. Yep, ceritanya memang bisa jadi GJe, tapi gak begitu selesai langsung kukirimkan ke penerbit, kan? Aku poles lagi. Buku yang lagi ku-remake ini waktu itu udah kuedit tapi cuma sebatas itu terus kuberanikan diri ngirim (proses pengiriman naskah ternyata gak terlalu menyeramkan, lho! Awalnya deg-degan tapi setelah itu sih pasrah aja, hehe :D). Hasilnya? Dikirim bulan Desember dan gak ada kabar sampe sekarang #antiklimaks

Omong-omong, kalau mau jadi penulis, kita harus disiplin, lho! Iya sih aku bilang aku itu penulis spontan, tapi aku juga menjadwalkan diri untuk menulis, yaitu setiap hari Senin-Sabtu jam 15.30-18.00. Katakanlah itu jam kerjaku. Bolehkah aku menulis di luar jam itu? Boleh bangeeeet! Intinya aku nulis itu bebas, tapi yang dua setengah jam itu gak boleh kulanggar, aku tetep harus nulis pada saat itu. Gitu lhoooo...... Aku dapet ilham untuk melakukan itu tuh dari om Iwok Abqary. Jadi waktu itu om Iwok di Twitter beliau ngomongin tips nulis gitu deh.... Dan salah satunya dibilang bahwa kita harus disiplin menulis; jadwalnya kita sendiri yang tentukan. Mau setiap hari seminggu, tiga kali seminggu, atau bahkan sekali seminggu. Terserah. Tapi minimal waktu menulis itu satu jam. And you know the rest, hehe....

Selain kedisiplinan, saat menulis kita harus membuat diri sendiri nyaman. Mind set aku adalah aku menulis untuk diriku sendiri, dan karena itu I should please myself first. Kalau kita gak nyaman saat menulis ya kita juga gak nyante kan? Alhasil itu bisa mempengaruhi mood. Dari mood ke tulisan. Whuaaaa! Tulisannya bisa-bisa malah amburadul! Dan caraku menyamankan diriku saat menulis adalah:
  1. Nulis di kamar dengan pintu tertutup dan terisolasi dari dunia luar
  2. Dengerin musik pake headset, jadi makin impossible untuk suara dari luar masuk dan gangguin (tapi tergantung mood juga sih, kadang aku nulis tanpa musik kalem aja tuh). Biasanya aku kalau nulis kalau gak ditemenin sama Simple Plan ya sama NeverShoutNever!. Lagu mereka enak-enak lho...
  3. Kudu ada kopi atau teh atau apa ajalah, yang penting minuman buat nemenin, tapi lebih bagus lagi kalau kopi, terutama kopi Luwak, hehe...
  4. Ada minuman masa gak ada camilan? Biasanya kalau aku nulis gak sambil makan siang (yang disorekan), ya aku makan Choki-Choki, tapi sekarang aku lagi tergila-gila sama permen karet karena itu camilan yang lebih awet (plus bisa dimakan sambil dimainin jadi balon~)
  5. Harus ada Kitty. Kitty itu boneka-bantal kucing yang tanteku kasih waktu aku masih kecil. Karena aku masih kecil, jadi aja namanya mendasar gitu. Sekarang nama lengkapnya adalah: Kitten Rosetta Nanditya Fitzgerald. Kalau aku udah mandek banget dan gak tau mau ngapain lagi biasanya aku ambruk ke tempat tidur sambil meluk Kitty. Karena udah nemenin lama banget, kalau gak ada Kitty akunya gak nyante~
Yah, itu aja dulu deh. Aku tau sih aku bukan siapa-siapa, but whoever you, if you read this, thank you. Aku berpikir bahwa curhatan yang mungkin akan paling menyentuh hati penulis pemula adalah curhat yang dikeluarkan oleh penulis pemula juga--like me! Keep calm and write.

N.B: Buat yang lagi patah hati atau naksir orang disarankan denger NSN! untuk lagu-lagu yang akan menyuarakan perasaan kalian (ceilah). Yay! ;D
N.B 2: Yang penasaran sama om Iwok bisa silakan follow twitter-nya di @iwokabqary dan cek TL #TipsNulis dari beliau :*

Saturday, 16 June 2012

I'M TAKEN!

From now on, I'm not single anymore. Yeah, I've found someone that could replace Tommy in my heart... Three months three days after I knew he's gone...

And I just love D :*

Wednesday, 23 May 2012

Stefani Joanne Angelina Germanotta

LADY GAGA. Tokoh yang sedang menjadi hot topic masyarakat Indonesia. Pro dan kontra mengenai konser Lady Gaga di Indonesia, tepatnya tanggal 3 Juni mendatang di Gelora Bung Karno, Jakarta, masih terus berlanjut. Dan akan tetap berlanjut sampai tanggal 3 Juni nanti--jika konser akhirnya digelar. Jika tidak, maka akan lebih daripada 3 Juni. Bisa sampai akhir tahun, malahan.

Sebebas apapun aku, aku termasuk orang yang menentang datangnya Lady Gaga ke Indonesia.

Jangankan konser, Lady Gaga datang ke Indonesia saja aku menolak.

Oke, jadi gini ya. Banyak yang bilang bahwa alasan Lady Gaga dilarang konser itu terlalu dibuat-buat, mengada-ada, berlebihan. Nay. Ada juga yang bilang bahwa larangan dari pihak kepolisian itu terlambat! ...Well, aku juga sempat bilang begitu. Tapi ternyata setelah ditilas balik, larangan dari pihak kepolisian dan FPI bukannya terlambat; itu justru cara terakhir mereka. Kenapa? Karena dari awal sudah ada larangannya. Anjuran, lebih tepatnya. Anjuran untuk tidak menonton konser tersebut. SANGAT banyak materi dari Gaga yang JAUH berbeda dengan budaya Timur. Budaya Timur dan juga budaya Indonesia. Kita, bangsa Indonesia, yang jelas-jelas menjunjung tinggi nilai adat, budaya, serta hidup bernegara dengan landasan Pancasila serta UUD 1945, tentu bertentangan dengan paham liberal yang dianut Gaga. Bagi Gaga, dia berjalan-jalan tanpa mengenakan busana itu sah-sah saja. Tapi kita...? Kalau Gaga mau masuk Indonesia, maka dia HARUS mengikuti adat istiadat kita, bukan KITA mengikuti adat istiadat DIA. Memang dia pikir siapa dia? Artis? Banyak juga artis di sini, tapi tidak segila dia. Lalu kenapa? Di mana bumi dipijak, di situlah langit dijunjung, kan? Masuk kandang kuda meringkik, masuk kandang kambing mengembik.

Yah, kalau Gaga mau konsernya beberapa tahun yang lalu sih, oke oke saja. Setidaknya sampai awal tahun 2011, gaya Gaga memang 'gila', tetapi gila yang inspiratif dalam konteks kreatif. Semakin ke sini, gaya Gaga semakin 'gila' yang jelek. Masih inspiratif, tapi inspiratif yang negatif. Gaun dari plastik? Dari daging? Oh, agak serem, tapi unik juga ya, keren. Bagus, lagi. Baju transparan? Bagian 'berbahaya' dari tubuh terbuka hanya ditutupi lakban? Itu sangat buruk. Terutama efeknya bagi kalangan muda.

Lagipula, promotor Gaga menjual tiket saat mereka belum mendapatkan izin. Itu teramat salah. Yah, mereka gak bisa disalahkan juga, sih. Maksudku, bisa saja mereka merasa yakin akan mendapatkan izin, jadi mereka langsung jual saja. Kesalahan bukan pada polisi yang 'terlambat' mengeluarkan larangan, melainkan pada promotor yang seenaknya menjual tiket meski izin belum ada di tangan. Kalau ternyata Gaga batal konser? Mau tidak mau promotor harus mengembalikan uang orang-orang yang telah membeli tiket tersebut. Rugi? Salah sendiri kenapa tidak sabar.

Gaga, kau boleh memasuki negara kami, tetapi turuti budaya kami.

Wednesday, 9 May 2012

Oh mah God. Mah God. I'm so sorry for not updating this blog. Aku lagi sibuk. Gara-gara pergantian kepsek kemarin, akhirnya baru sekarang UTS diadakan. Dan gilanya sih, karena ngikutin jadwal pelajaran sekolah, akhirnya tadi pagi-siang EMPAT mata pelajaran dong aku ujian! IPS, IPA, matematika, dan PKn. Astagaaaaaaahh........................ Otakku menetes keluar dari telingaaaaaa..................

BeeRBe mau ambil mangkuk tadahan.

Sunday, 29 April 2012

Ngobrol Dengan Orang Gila.... Ternyata Nyambung Juga!

Kupikir, merasakan perasaan bimbang ataupun galau adalah hal yang manusiawi...

 *

HARI ini aku super galau. Entah kenapa. Yang pasti, rasa gagal memenuhi kuota tulisan yang sudah kutargetkan semalam karena ketiduran dan merasa dicuekin sama seseorang itu berperan besar. Tambahan, sebagai cewek remaja, kemungkinan hormon PMS-ku juga turut serta dalam membuat perasaanku berkecamuk. Aku, jujur saja, bahkan menangis karena buntu ketika menulis. Aku! Seorang Dilla Nanditya! MENANGIS!? Yah, bukan hal baru juga, sih.

Dan, meskipun beberapa hari ke belakang ini aku sudah sering bepergian dengan ibuku (mulai dari diajak, minja diajak, sampai ngancem supaya diajak), tapi entah kenapa aku merasa... terperangkap. Pengap. Terkungkung. Serasa seperti gelas yang kepenuhan. Gunung berapi yang menggelegak. Aku butuh menyalurkan semua emosi ini. Masalahnya, ke mana? Berusaha menuangkannya pada tulisan, sulit. Aku seolah kehilangan kata-kata. Jadi aku memutuskan melakukannya melalui olahraga.

Aku memutuskan untuk berjalan-jalan. Dalam arti harafiah.

Sebelum pergi, aku pamit pada nenek, dan, seperti biasanya, nenek melarang serta mulai menceramahiku tentang "menjaga kewanitaan", "mendingan diam di rumah dan baca buku", serta "zaman ini sudah gilak". Perasaan yang selalu kurasakan ketika berbicara dengan nenek kembali timbul; desakan kuat antara ingin marah dan menangis berperang keluar, tapi berusaha kuredam. Berusaha berargumentasi tanpa terlalu keras, akhirnya aku menyerah dan langsung pada poin utama yang ingin kukatakan. "Nek, aku butuh uang. Nenek punya sepuluh ribu (rupiah)?"

Nenek masih ngedumel dan berbicara tentang bahayanya bepergian di zaman seperti ini dan aku cuma diam, menunggu. Akhirnya nenek memberiku uang sepuluh ribunya, selembar lima ribuan, selembar dua ribuan, dan tiga lembar seribuan. Kuambil uang itu dan berkata, "Makasih, nek."

Muka nenek masih bertekuk.

Aku mendesah dan masuk ke kamarku untuk membereskan tas, menyiapkan apa saja yang perlu kubawa. Selalu gini deh. Kalau aku mau pergi-pergi, nenek selalu argumennya begitu. Nenek mengajukan argumen soal perempuan yang, um..., diperkosa sampai lima dan delapan orang di angkot membuat beliau ngeri; aku gak berani bilang bahwa aku gak akan naik angkot tapi jalan kaki. Aaaaahh...... rumit.

Laptop [check]
Charger laptop [check]
Jaket ganti [check]
Payung [check]
Bekal minum [check]
Hand sanitizer [check]
Perlengkapan menulis (minus kertas) [check]
Sisir [check]
Cermin [check]
Eyeliner [check]
Maskara [check]
Lip balm [check]

Pembaca mungkin akan bingung kenapa aku sampai bawa eyeliner dan maskara segala. Lip balm, sisir dan cermin masih bisa dimengerti. Tapi eyeliner dan maskara? Well, sebenarnya seharusnya aku gak cuma bawa itu tapi perlengkapan make up yang lengkap dan juga baju ganti sih. Tapi kalau dipikir-pikir aku kan pergi untuk melepas stress, bukan untuk membuntuti orang. Jadi aku cuma bawa eyeliner dan maskara (untuk membuat perubahan minimal pada penampilan... siapa tahu aku dibuntuti orang). Huh. Jangan remehkan para gadis.

Kusandang Aleron, tas ransel hitamku, dan pergi ke depan. Aku memakai sepatu dan membuka pintu. Hup. Kulangkahkan kakiku ke luar dari ambang pintu. Bismilahi rahman nirrahim... Aku bergumam, "Assalamualaikum," sebelum menutup pintu dan menguncinya. Jgrek. Rapi. Aku keluar dari pekarangan rumah dan menutup pagar sampai rapat. Sip. Huplah. Aku mulai berjalan. Dan dimulailah perjalanan Dilla the Explorer!

*

Aku meninggalkan lapangan Gasibu dan menyusuri jalan Aria Jipang sampai Prabudimuntur (terima kasih peta), lalu berbelok ke jalan Ir. H. Juanda, menyeberangi jalan Diponegoro, melewati Dukomsel, sebuah hotel (aku gak ingat namanya), Pizza Hut, Disc Tara, Hanamasa, dan Superindo, menyeberangi jalan Terusan Sultan Tritayasa, kembali ke jalan Juanda (waktu nyeberang aku sempat belok sedikit, jadi katakanlah aku udah masuk ke jalan Tritayasa). Teruuuuuuuusss.................... Berjalaaaaaaaaaaann................ Dengan penuh semangaaaaaaatt.............. Hingga......

Tep.

Persis sebelum belokan ke jalan Sultan Agung (buat yang gak terlalu hafal, di situ ada semacam tempat hijau berbentuk segitiga dengan patung raksasa tiga pria pekerja), aku berpapasan dengan seorang pria yang berusia sekitar 25-30 tahunan, berpakaian dan bepenampilan dekil dan kotor. Satu kata dengan cepat melintas di benakku, "Orang gila."

Jalan aja Dill, jalan, kalem aja kalem. Jangan liat orangnya.

Tapi terlambat. Tanpa sengaja aku bertemu mata dengan orang gila itu, dan dia langsung mendekatiku.

Ya Allah, tolong jangan biarkan dia ngapa-ngapain aku ya Allah. Janji deh nanti aku bakal rajin shalat, infaq, shodaqoh, dan berusaha secepat mungkin khatam Al-Quran tapi tolong ya Allah, toloooooo--alamaaaaaaaaaaakk.................. dia dateeeeeeeeeeeenngg...........................!!!!

Jantungku berdebar keras, telapak tanganku berkeringat, lututku bergetar, mataku melebar dan mulutku berbusa (oke, ini tuh degdegan + takut apa kejang-kejang kesurupan?). Dan.... orang gila itu.... mengajakku berbicara.

"Teh," panggilnya dengan cara bicara seperti anak kecil di bawah usia sepuluh tahun, "Teteh liat ibu gak?"

"Hah?" aku cengok. "Ibu?"

"Iya, Teh. Mama."

"Uhh," dengan begonya aku nanya, "emang kenapa?"

"Dean tadi kepisah sama ibu," katanya, "tadi kan Teh Nita katanya nganter ibu ke WC."

Uh. Ada campuran antara rasa kasihan dan bingung. Kasihan, karena dia keliatan bener-bener kayak anak yang kepisah dari keluarganya. Dan bingung, karena cara ngomongnya agak mirip orang kumur-kumur, untung masih jelas kedengeran dia ngomong apa. "Eeehh.... Iya, tadi Teteh anterin, tapi habis itu Teteh kan mau pergi, jadi ibu nyuruh Teteh buat nyari kamu, supaya kamu aja yang ngedatengin ibu."

"Ibu di mana, Teh?"

Mampus gue. "Umm....."

"Di WC yang di situ bukan, Teh? "

"Di mana?"

"Teteh gimana, sih? Itu tadi yang deket tenda kupat tahu."

Nahlo. Anak--orang--ini ngira dia lagi di festival perayaan atau apa? Yah, ikuti permainannya ajalah. "Iya! Di situ! Kamu tau jalan ke sananya, kan?"

"Teteh mau ke mana?"

"Eeeeng, Teteh mau ketemu sama temen Teteh dulu. Dean sana ke ibu, jangan nakal ya." <--buset dah, apaan neh??

"Mau ketemu siapa, Teh?"

"Yaaah.... umm... pokoknya adalah, temen Teteh."

"A' Reza ya Teh? Teteh pacaran mulu, ih."

"Huss! Anak kecil udah sana aja ke ibu!"

"Ya udah, Dean pergi dulu ya Teh," dia menarik tanganku dan menciumnya--SERIUSAN DICIUM PAMIT LOH! ANJRIIIITT..... "Samlekum..."

Aku masih sempat bergumam, "Kumsalam," sambil melihat "Dean" pergi dan berbelok ke Sultan Agung. Terus tau-tau aku udah nyender ke pohon. Sumpah itu pertama kalinya aku ngobrol sama orang gila... atau mungkin dia cuma orang iseng? Entahlah. Aku ngeliatin tangan kananku. Agak kotor dan berdebu. No offense, tapi begitu semua kepingan kesadaran terkumpul, aku langsung nuangin hand sanitizer ke tangan dan berkata riang pada diri sendiri dalam hati, "Teh Nita, Teteh harus bersih, rapi, dan wangi yaaa... Kan mau kencan sama Aa Rezaaa....."

Mantep.

*

Aku masuk ke dalam BIP dan berjalan lurus menuju Times. Iseng aja sih, toh aku gak akan bisa beli buku apapun dari Times (di Times kan buku-bukunya impor, gila aja). Aku masuk ke lorong rak-rak buku anak-remaja. Ngiler ngeliat Dork Diaries #2: Party Time.

Kemudian aku mengganti jaket pink-ku dengan Tommy, jaket hitam-ungu yang kusimpan dalam tas. Lepas jaket, lipat, tahan di kaki, buka tas, ambil Tommy, pakai Tommy, masukin jaket pink, mas-mas penjaga lewat.

Hening.

Aku ngeliatin si mas-mas penjaga. Masnya ngeliatin aku. Kita saling tatap-tatapan, kemudian si masnya dengan dramatis bilang, "Sayang, itu kamu!?"

Dengan dramatis aku memeluknya, "Ayaaaaanngg........"

Dan dia bales meluk aku, "Belahan jiwaku telah kembali!"

YA, NGGAKLAH.

Dengan cepat aku meresleting Aleron dan menyandangnya di bahu, lalu bertingkah senormal mungkin. Yang, dalam kasus ini, artinya sama dengan: "Umm, bukunya bukan di sini, kalinya? Eh? Oh ya bener, di bagian sana."

Sangat mencurigakan itu mah.

Ukh. Buru-buru aku beranjak dari situ, dan sebelumnya aku sempat melirik si mas yang masuk ke lorong di mana aku keluar sebelumnya. Yeah. Cek aja buku-bukunya. Aku kan inosen banget.

Lanjut naik ke atas, aku liat-liat film yang ada di 21, tapi gak sampai masuk, karena aku males kalau tasku musti diobrak-abrik sama satpamnya. Mending kalau humoris dikit. Ini mah kagak. Jadi aku putar arah ke Heartwarmer, liat sekilas, keluar lagi. Terus turun satu lantai, masuk ke TGA setelah sebelumnya bilang sama penjaga tempat penitipan barang bahwa aku bawa laptop jadi jangan dititipin. Dipersilakan masuk. Nah, kalau di sini, baru.... aku masih gak minat nyuri buku #antiklimaks

Liat-liat sebentar doang, gak adalah sepuluh menitan di sana. Terus aku turun lagi, kali ini ke McD. Antri. Dilayani langsung oleh sang manajer. "Selamat siang, selamat datang. Mau pesan apa?"

"Es krim cone-nya," jawabku. "Um, bedanya yang reguler dengan 4 Oz apa?"

"Kalau yang 4 Oz lebih besar ukurannya, mbak."

"Oh, oke deh, mau pesen yang 4 Oz aja."

"Berapa?"

"Satu."

"Ada lagi yang mau dipesan?"

"Nggak. Itu aja cukup, makasih."

Manajernya ngeliatin aku sambil agak mengerutkan kening dan cemberut. Cuma sebentar, tapi ketangkap olehku. Ha! Gak rela dia! EGePe banget! Duit, duit gue! Lagian aku lagi berhemat. Huuuuuuhhh.............

Keluar dari BIP, aku melanjutkan perjalanan menelusuri jalan Merdeka, berhenti sebentar di depan Gereja Sidang Jemaat untuk mengistirahatkan kaki, menyeberang di depan BalKot alias Balai Kota, dan berbelok ke jalan Perintis Kemerdekaan. Keren nih. Aku bisa bikin buku panduan wisata. Random. Oke. Balik lagi. Dari Perintis Kemerdekaan, aku belok ke Wastukencana dan berjalan di trotoar yang berada di sisi kanan jalan. Di seberang sana, di sisi kiri jalan, ada beberapa orang anak yang kira-kira sebaya denganku, terdiri dari dua cewek dan tiga cowok, jalan bareng-bareng. Satu anak cowoknya ngeliat aku, dan dia mempercepat jalannya. Aku, merasa ditantang dan gak terima dikalahin gitu aja, nambah speed jalanku. Eh, dia juga nambah kecepatan. Akhirnya kami jadi kayak lomba jalan cepet gitu deh, meski lintasannya terpisah sekitar tiga meter jauhnya. Tapi kemudian aku berbelok di jalan Aceh, dan berakhirlah lomba kami. Aku, dengan senang hati beranggapan berdasarkan jarak terakhir kami, menjadi pemenangnya. Horee!

Aku menyeberang di jalan Aceh, melewati sekumpulan pengamen muda (yang usianya gak akan lebih dari enam belas tahun), dan salah satunya yang mungkin sepantaran denganku atau bahkan lebih muda dan sedang menghisap rokok, bergaya seolah bumi bergetar ketika aku berjalan. Aku ketawa. Dia nyengir. Aku berbelok ke jalan Merdeka. Yep. Intinya aku berjalan memutar.

Aku menelusuri jalan yang kulalui tadi (dari Merdeka ke Juanda), bedanya kali ini aku di sisi yang berlawanan (iyalah, kan aku mau naik). Gak ada yang spesial, kecuali satu kali saat aku bengong dan diklakson sama taksi dan dipelototin sama supir taksinya. Entah mengingatkan atau dia kesal aku menerobos jalurnya. Yaelah, jarak antara aku sama mobilnya masih ada setengah meteran lagi, lecet juga kagak. Tapi liat sisi positifnya. Pelototan si pak supir bikin aku sadar bahwa meski kaca taksi agak gelap, tapi masih bisa keliatan dari luar #eh

Aku menyeberang di depan Dago Plaza. Di sini ruteku agak berubah. Kalau tadi saat pergi aku melewati Prabudimuntur kemudian Juanda, kali ini dari Juanda aku berbelok di Dukomsel, ke jalan Diponegoro, melewati Gereja GKI Tamansari (lumayan banyak juga ya gereja di Bandung, saingan sama masjid, hahaha), dan terus mengikuti Diponegoro (artinya ketika di pertigaan, aku ngambil jalur kanan, karena kalau kiri itu udah masuk Aria Jipang), hingga berbelok ke jalan Gazeboo, dan berbelok ke Surapati. Sampailah aku di Lapangan Gasibu (nulis Gazeboo itu melelahkan) dan menemui ibuku yang sedang menghadiri acara Yamaha dengan Trans7 dalam launching motor matic baru Yamaha yaitu Mio J. Dengan sistem injeksi dan tampilan yang lebih menarik, Mio J adalah salah satu motor baru yang wajib dimiliki, atau setidaknya dikendarai. Tentu saja, karena Yamaha semakin di depan! <--Yamaha harus bayar aku sekurang-kurangnya Rp500.000,00 untuk mempromosikan produk baru mereka *evil grin*

Ibuku mengantarkan aku pulang, tapi sebelumnya kami--lebih tepatnya aku, karena ibuku udah makan di Gasibu--mampir ke Kantin Salman untuk makan. Aku ambil kue sus tiga, ibuku ambil bolu satu, kemudian aku ambil nasi satu setengah sendok, sayur capcay, dan.... uh... sayur dengan kwetiaw? Yah, pokoknya itulah. Dan satu sosis. Minumnya dua jus jambu. Buat aku dan ibuku ya, bukan buatku sendiri. Aku gak tau satuannya, yang pasti total jadi dua puluh ribu pas. Hore! ...Apa yang ku-Hore!-kan?

Dan dari sana, ibuku mengantarkan aku pulang dengan selamat sentosa gak kekurangan suatu apa, serta ceritanya pun berkahir bahagia... Eh, tunggu! Aku masih tetep gak bisa ngelanjutin novelku! Oke, kalau begitu, nilai kebahagiaannya dikurangi lima belas! Eh, nggak, dua puluh! Yah, begitulah. Life goes on.

*

Kupikir, merasakan perasaan bimbang ataupun galau adalah hal yang manusiawi... Dan itu berlaku pada setiap umat manusia, dari segala jenis usia. Yang membedakan tingkat rasa galau dan bimbang itu hanyalah bagaimana setiap individu menyikapinya...


-Bandung, 29 April 2012-