Saturday, 11 August 2012

Christina Perri - Jar of Hearts

Well aku udah bilang kan, aku lagi suka sama lagu ini? Jadi aku post di sini video + lirik lagunya. Enak banget lhoooowh (>w<)


Christina Perri - Jar of Hearts

No, I can't take one more step towards you
'Cause all that's waiting is regret
Don't you know I'm not your ghost anymore
You lost the love I loved the most

I learned to live half alive
And now you want me one more time

And who do you think you are?
Runnin' 'round leaving scars
Collecting your jar of hearts
And tearing love apart
You're gonna catch a cold
From the ice inside your soul
So don't come back for me
Who do you think you are?

I hear you're asking all around
If I am anywhere to be found
But I have grown too strong
To ever fall back in your arms

I've learned to live half alive
And now you want me one more time

And who do you think you are?
Runnin' 'round leaving scars
Collecting your jar of hearts
And tearing love apart
You're gonna catch a cold
From the ice inside your soul
So don't come back for me
Who do you think you are?

Dear, it took so long just to feel alright
Remember how to put back the light in my eyes
I wish I had missed the first time that we kissed
'Cause you broke all your promises
And now you're back
You don't get to get me back

And who do you think you are?
Runnin' 'round leaving scars
Collecting your jar of hearts
And tearing love apart
You're gonna catch a cold
From the ice inside your soul
So don't come back for me
Don't come back at all


Who do you think you are?
Runnin' 'round leaving scars
Collecting your jar of hearts
Tearing love apart
You're gonna catch a cold
From the ice inside your soul
Don't come back for me
Don't come back at all

Who do you think you are?
Who do you think you are?
Who do you think you are?

It's the Dark Ones!

Akhir-akhir ini aku lagi suka sama Christina Perri dan Lana del Rey, nih.

Well, pertama kali aku dengar Christina Perri secara sadar adalah waktu aku search lagu A Thousand Years di YouTube. Kenapa secara sadar? Karena setelah mendengar lagu itu, aku baru sadar bahwa akhir-akhir ini lagu itu tuh lagi sering banget diputer di mana-mana, dan aku nggak pernah tau bahwa itu tuh Christina Perri. Jadi aku udah sering denger lagu itu sebenernya, cuma secara nggak sadar, gitu deh. Terus aku liat video Jar of Hearts. Buatku sih bagus, keren bahkan. Dalem gitu. Dan suaranya Christina itu lho... Awalnya kudengar sih kayak yang nggak berkarater gitu suaranya. Bukannya datar sih, cuma kayak gak ada keunikan tersendiri gitu. Misalnya kayak Lady Gaga, Katy Perry, atau bahkan Ellie Goulding, sekali denger tuh langsung ngeh siapa penyanyinya, soalnya suara mereka khas gitu, sementara Christina nggak. Tapi setelah lama didenger... baru deh kerasa kekhasannya (olehku). Hehe, entah akunya yang lemot apa gimana.

Jadi yang kutangkep tuh, karakter suaranya Christina, yaaaah, dark-dark gimanaaaaa gitu. Rada berat tapi nggak berat banget. Jadi sekilas mirip gloomy gitu, cuma nggak gloomy banget, jadi jatuhnya dark. Menurutku itulah ciri khasnya dia, dark yet strong. Beda lagi sama Lana del Rey. Kalau Lana, suaranya itu males-males dalem, jadinya lazy yet powerful. Dua-duanya punya tipe suara dark yang jirgilakerenabis gituuuu..... Kyapiiiii (>w<)/

Yah, emang sih, aku baru denger lagunya Christina A Thousand Years sama Jar of Hearts doang, dan Lana apalagi, cuma Born to Die, tapi dua-duanya keren! Yaaaah video Born to Die gak begitu kurekomendasikan untuk ditonton, tapi memang menjelaskan maksud dari lagunya gitu. Cause you and I... we were born to die.

Aaaaaah, I'm in love with both of them (-w-)

Thursday, 9 August 2012

Salon + Tattoo and Piercings Studio?

Jadi, dulu aku tuh sempet terobsesi banget sama tato. Well, menurutku dulu - dan sampai sekarang - tato itu keren. Tapi gak keren kalau design yang salah, tato berwarna yang luntur dan diabaikan, atau bahkan sebadan penuh dengan tato yang, yah, gambarnya gitu-gitu aja. Udahlah badan penuh oleh tato, tatonya juga kebanyakan tanpa makna. Iyuuuuwh banget deh. Yaaa, intinya, menurutku tato itu keren selama gak berlebihan banget. Minimal memang ada nilai artistiknya. Kalau cuma gambar-gambar tanpa makna yang saling berimpitan sih males banget...

Anyway, seiring waktu berlalu, aku juga jadi gak terlalu terobsesi sama tato, tapi masih tetap suka. Aku bahkan udah bikin perjanjian sama ibu: Aku boleh bikin tindikan atau menato badan kalau udah berumur 21 tahun. Which, by the way, only 6 years 10 months and 22 days to go  terhitung dari sekarang. Yay!

Emang sih, aku sempet ragu juga mau bikin tato. Banyak yang bilang bahwa tato itu gak boleh, tapi menurutku sih gak apa-apa selama gak di tempat yang kena air wudhu. Yah itu pendapatku sih. Yang bikin aku ragu adalah waktu aku lihat-lihat buku Illuminati/Freemason yang dilengkapi lambang-lambang bikinan mereka itu, ternyata beberapa gambar yang kuincar kujadikan tato di masa depan termasuk! Oh no! Gue kan anti-Illuminati! Jadi masa iya aku masang salah satu (dua, bahkan!) lambang ciptaan mereka di badanku? Tidaaaaaaakk......!!

Jadi sempet diurungkan juga niat itu. :|

Tapi tak ada banjir bandang tak ada tsunami (eh, ada ding beberapa waktu lalu di SumUt apa SumBar gitu) aku kepengin punya salon + studio tato dan tindikan. Kan kayaknya keren tuh. Udah gitu aku kan lumayan suka gambar, mana tau aku bisa jadi tattoo designer. Well, oke, maybe the salon thingy is a little bit too much, tapi aku tetap pengin punya studio tato dan tindik, mengingat aku sendiri kepengin ditato dan ditindik. Dan meskipun, yaaah, aku masih remaja (aku menolak disebut anak kecil!) dan jalan ke sana pasti masih jauh, aku udah mikirin apa aja yang kemungkinan harus disiapkan untuk itu. Modalnya gimana, pekerjanya gimana... karena kayaknya gak mungkin aku kerja sendirian. Kalau tempatnya kecil sih, bisa, tapi kalau udah berkembang kan karyawan kudu nambah juga.

Dan walau itu memang masih lama banget, aku udah bersumpah dalam hati: Aku gak akan pernah pakai jarum yang sama lebih dari sekali.

Umm, kesannya mungkin jadi buang-buang uang, ya? Tapi aku gak mau kalau misalnya ada orang yang datang ke studioku, dan ternyata dia terinfeksi penyakit apalah yang mungkin diidap sama pengguna jarum yang sebelumnya. Penggunaan jarum baru, yah, emang gak 100% pasti higienis, I admit that, tapi senggaknya udah masuk sekitar 88%... mungkin. Tapi bener kok, penggunaan jarum baru untuk orang yang berbeda itu harus. Karena kalau pakai jarum yang sama dua kali atau bahkan lebih, misalnya si pelanggan A punya penyakit HIV, pelanggan B tetanus (eh, tetanus tuh ditularkan dari darah bukan sih?), dan pelanggan C sehat. Tapi mereka pakai jarum yang sama. Sakit semua. Kecuali kalau yang pakai duluan pelanggan C. Tapi tetep aja gak boleh. Sekali pakai buang, jarum itu. Untuk menjaga profesionalisme!

Omong-omong, kalau studio kayak gitu pasti butuh sertifikat, kan? Sertifikat kesehatan? Tapi sudahlah, yang itu diurus ntar aja dulu. Untuk tempat, umm, kupikir sih kalau tempatnya disatukan dengan rumah tinggal asik juga. Jadi rumah dua tingkat, tingkat bawah untuk studionya dan tingkat atas tempat tinggalnya. Teruuus karena aku cewek kan harus ada pengaman tuh. Misalnya aku selain bikin sertifikat kesehatan juga bikin sertifikat senjata. Kan lumayan bisa nyimpen senapan dalam rumah, keren gak tuh. Huehehe... Atau bisa juga sih, misalnya tangga yang menuju ke atas itu ada di ruangan terpisah dan ruangannya itu kukunci. Bisa aja siiih.

Habis itu aku kepikiran lagi, masa iya tatonya mau begitu-begitu aja? Kayak, yah, gak ada yang lain, gitu? Dan kalau kupikir sih setiap tattoo designer pasti punya desain pribadi, kan? Yaaah, semacam tato yang cuma ada satu di dunia, gitu. Jadi mereka punya desain buatan sendiri, dan kalau ada pelanggan yang mau 'ngambil' gambar itu dan dia tatokan di badan (dengan harga yang merogoh kocek cukup sampai sangat dalam, tentunya), setelah gambar itu selesai ditatokan, gambar itu gak akan bisa dipakai lagi. Sold. Walau ditawar berapa juta pun karena tato itu cuma ada satu di dunia gak akan digambar di badan orang lain lagi. Yah, kalau aku sih, kupikir akan begitu. Gak tau, siapa tau ada tattoo designer yang kalah sama uang? Mungkin.

Omong-omong, menurutku, kalau udah cukup besar, maka studioku akan punya tiga ruangan khusus untuk bekerja. Kalau cuma satu, ntar lama nunggu dong. Jadi ada tiga. Kalau bisa lebih malah alhamdulillah. Terus ada satu ruangan khusus buatku, ruangan bos gitu, hehehe. Sekarang yang kupikirkan adalah: Kalau nindik, bisa gak di luar aja? Maksudku, kalau untuk tato kan ada ruangannya, yang dijaga bersih dan higienis, sebelas/dua belas lah sama ruangan rumah sakit. Nah, kalau nindik harus gitu juga apa bisa di luarnya aja, gak perlu ruang khusus gitu? Kayaknya kalau untuk tindik mah bisa, ya. Buktinya aku pernah ditindik di mall. Nindik telinga sendiri di rumah juga pernah, pakai peniti, tapi sekarang lubangnya udah ketutup .___.

Jam kerja yang wajar aja deh, jam sepuluh pagi sampai jam sepuluh malam (tapi tamu diterima cuma sampai jam delapan). Maksudnya adalah, setelah jam delapan, technically studio udah tutup, tapi tamu-tamu yang udah datang sebelum jam delapan masih bisa dilayani sampai tato/tindiknya selesai. Salon juga gitu, kan? Kenapa aku berani sampai malam, jam sepuluh? Yah aku pasti udah dewasa kan pada saat itu, paling muda mungkin <25 tahun, tapi minimal aku juga tahu kan gimana mempertahankan diri (in case kalau-kalau ada yang macem-macem). Lagian aku kan di studio tato dan tindik, senjataku ada banyak, hohoho...

Oh iya, aku kan pengin punya studio tato, dan itu didasari dari aku yang pengin punya tato. Kupikir sih, aku mau punya tato di tengkuk (I've made the design, yippie!), dan lengan atas; terserah mau kanan apa kiri. Kalau yang di lengan sih kemungkinan nama/quotes. Atau bisa juga lambang apalah gitu, lambang Penyelamat atau faksi Candor atau gambar pin Mockingjay (yang udah baca/ngobrol sama aku tentang novelku, baca Divergent, dan baca The Hunger Games pasti ngerti). Kalau tindiiiiik..... Aku selalu membayangkannya adalah di telinga kiriku, tindikannya cukup satu aja di daun telinga. Di telinga kanan baru deeeeeehh....... Silakan bayangkan sendiri yawh. Daaaaaaaaan sebenernya aku juga pengin punya rambut yang beda gitu. Entah unik entah aneh. Aku selalu pengin punya rambut yang dipotong pendek kayak rambut cowok, tapi punya poni samping (yang emang cuma ada di samping karena sisi lainnya ya dipotong pendek) di sebelah kiri yang panjang sampai ke dagu. Jadi satu-satunya bagian rambutku yang panjang itu ya di poniku itu. Terus diwarnai hijau atau warna ngejreng yang lain... Wiihiiiiii.....!!

Sayangnya rambutku gak lurus jadi gak cocok dengan model itu :(

However, aku masih tetap menginginkan rambut dengan warna yang WTF, tapi sekali lagi, aku gak cocok dengan hijau. Soooo maybe red? Blue? Hmm...

Just wait and see someday I'll have a tattoo and piercing studio by my own \m/

Tuesday, 7 August 2012

Back to December

Omong-omong, begitu ngomongin Tommy lagi, entah kenapa aku jadi teringat lagu Taylor Swift - Back to December. For me, it's like mourn in March as I go back to October last year. Well, air mata gak akan mengembalikan Thomas, but I think he deserves not to be forgotten. Unlike his cousin. Yeah...


Taylor Swift - Back to December

I'm so glad you made time to see me
How's life? Tell me, how's your family?
I haven't seen them in a while

You've been good, busier than ever
We small talk, work and the weather
Your guard is up, and I know why

Because the last time you saw me
Is still burned in the back of your mind
You gave me roses, and I left them there to die

So this is me swallowing my pride
Standing in front of you, saying I'm sorry for that night
And I go back to December all the time
It turns out freedom ain't nothing but missing you
Wishing I'd realized what I had when you were mine
I go back to December, turn around and make it alright
I go back to December all the time

These days, I haven't been sleeping
Staying up, playing back myself leaving
When your birthday passed, and I didn't call

Then I think about summer, all the beautiful times
I watched you laughing from the passenger side
And realized I loved you in the fall

And then the cold came, the dark days
When fear crept into my mind
You gave me all your love, and all I gave you was good bye

So this is me swallowing my pride
Standing in front of you, saying I'm sorry for that night
And I go back to December all the time
It turns out freedom ain't nothing but missing you
Wishing I'd realized what I had when you were mine
I go back to December, turn around and change my own mind
I go back to December all the time

I miss your tan skin, your sweet smile
So good to me, so right
And how you held me in your arms that September night
The first time you ever saw me cry

Maybe this is wishful thinking
Probably mindless dreaming
But if we loved again, I swear I'd love you right

I'd go back in time and change it, but I can't
So if the chain is on your door, I understand

This is me swallowing my pride
Standing in front of you, saying I'm sorry for that night
And I go back to December
It turns out freedom ain't nothing but missing you
Wishing I'd realized what I had when you were mine
I go back to December, turn around and make it alright
I go back to December, turn around and change my own mind
I go back to December all the time, all the time...

Monday, 6 August 2012

Dystopian?

Eh apa banget deh gara-gara akhir-akhir ini bacaanku genrenya dystopian (genre yang mengusung tema masa depan, kadang diceritakan sehabis perang atau kehancuran dahsyat gitu) aku jadinya kebayang-bayang bikin cerita dystopian juga, tapi di Indonesia. Aku juga punya sih satu kerangka setengah jadi dari tema dystopian lamaku, judulnya Peacekeepers, ceritanya tentang anak-anak yang direkrut untuk jadi tentara Penjaga Perdamaian itu. Kenapa anak-anak? Karena dibandingkan orang dewasa, meski mungkin mental mereka gak siap, tapi dengan latihan fisik mereka bisa siap. Dan karena setiap tulang rawan mereka itu diganti dengan sesuatu yang lebih kuat dan gak gampang patah + gen mereka dimutasikan, orang dewasa dianggap kurang cocok untuk hal ini. Ngejelasinnya susah kalau singkat, pasti kudu panjang kali lebar sama dengan tinggi, tapi pokoknya intinya anak-anak dianggap lebih bagus untuk segala macam operasi, mutasi, dan pelatihan untuk jadi Peacekeeper itu :D

Tapi yang Peacekeepers itu settingnya kebanyakan di luar negeri. Well, dibentuknya Peacekeepers sama PBB itu tuh karena perang udah merajalela, Perang Dunia III lah. Setiap negara yang menjadi anggota PBB tuh wajib 'menyumbangkan' anak-anak rekrutan mereka yang usianya antara 14-18 tahun (ada juga yang paling tua sekitar 19-20 tahun, tapi itu bahkan gak sampe 3 orang), termasuk Indonesia juga. Nah, jadi ada dong ceritanya yang berlokasi di Indonesia? Ada, tapi sedikit. Sementara yang aku bayangin itu, yang menghantui benakku itu, pure di Indonesia. Yah, kebiasaan lama, jadi pasti unsur luar negerinya ada. Entah mungkin ada blasteran atau dari nama. Sejauh ini sih yang kubayangkan satu nama: Sofie untuk tokoh utamanya. Kenapa Sofie? Karena menurutku nama itu tuh kesannya halus, lembut... pokoknya berkesan seorang anak yang baik-baik deh! Tambahan nama Sofie dalam bayanganku langsung tercipta seorang gadis dengan tubuh mungil, rambut ikal bergelombang, kulit putih dan mata yang besar jernih bercahaya. Meski Sofie berkulit putih, bukannya aku rasis lho ya. Aku justru suka sama orang-orang yang berkulit gelap, kesannya eksotis gimanaaaaa gitu, sementara kulitku putih cenderung pucat... *ngambek di pojokan*

Anyway, settingnya sekitar tahun 2099, gak begitu lama sejak Perang Dunia III selesai. Maksudku, hal apa lagi yang bisa mengakibatkan kekacauan di mana-mana selain perang? Perang dunia, pula. Gak beda jauh sama PDII di mana dunia terbagi jadi beberapa kubu. PDIII punya dua kubu: kubu Timur dan kubu Barat. Itu artinya, Indonesia stand against America! Iyeeeeeeyy......!

Dari dulu aku emang udah kurang suka sama negara adikuasa itu sih :D

Tapi kalau kalian mau tahu, gimana pun juga, hasilnya udah ketahuan: meski kubu Timur punya Jepang, kita (Timur) kalah sama Barat meski selisihnya gak jauh beda. Intinya kubu Timur kalah, meskipun di perjanjiannya tertulis bahwa kini dunia terbagi jadi dua bagian kubu; Barat dan Timur, di mana tiap kubu gak boleh saling mengganggu atau berhubungan lebih daripada sekadar bisnis atau kepentingan lainnya. Artinya gak ada lagi VOA kecuali untuk petinggi negara, itu pun terbatas pada, yaaa, berita-berita penting. Gak ada lagi film Eropa yang masuk ke kita, pun kita gak ada yang nunjukkin film kita ke Barat. Yah intinya gitulah. Bumi masih satu, tapi penghuninya tinggal dua: Barat dan Timur. Bangsa Timur, yang emang sedari awalnya beraneka ragam sih, bisa dibilang gak kenal lagi yang namanya Racist ataupun SARA. Hah? Apaan tuh?

Sementara bangsa Barat yang, kita tahulah, dari dulu tuh menganggap kaum kulit putih lebih baik, rasisnya makin menjadi-jadi ._. Yaah gak semuanya sih, tapi kebanyakan begitu. Akhirnya banyak kaum yang mereka anggap lebih 'rendah' kalau nggak dijadikan budak (lagi) diusir ke sisi Timur. Populasi Timur pun bertambah dan kemiskinan merajalela... seperti yang sudah kita duga.

Tapi jelas nggak semuanya miskin, dwooong....! Ada juga yang masih hidup menengah ke atas, tapi mengingat sulitnya kehidupan saat itu, kayaknya nggak aneh kalau mereka yang menengah ke atas juga pelit-pelit gimanaaa gitu. Kayaknya justru aneh kalau mereka semua saling berbagi terus menerus. Maksudku, mereka juga kan manusia. Mereka juga kan punya ego. Jadi walaupun sama-sama masuknya ke kubu Timur, tetep aja mereka kayak sekarang ini (kamu tahulah maksudku).

Berita baiknya: pada sekitar tahun 2050-2070-an banyak orang yang akhirnya memedulikan lingkungan dan bumi pun berangsur pulih, tapi kembali mulai rusak sewaktu PDIII. Tapi radiasi UV gak separah yang diduga dan dengan kemajuan teknologi, pun kalau radiasi UV terjadi mereka siap menghadapinya di tahun 2099. Alhamdulillah ya sesepatu :'D

Umm, dan kenapa ya aku mau berbagi ini semua? Aku juga gak tau. Mungkinkah ada orang yang baca dan mencuri ideku? Go ahead, garis besar post ini kan dystopian dan apa yang kujabarkan mengenai ide baruku. Satu resep yang sama kalau diolah di tangan yang berbeda akan beda hasil juga, toh? Tapi gimana kalau suatu saat aku nemuin buku yang bergenre dystopian, setting tahun 2099, dengan seorang tokoh utama bernama Sofie, dan menceritakan kehidupan setelah PDIII? Apa aku takut itu akan terjadi? Yep, aku takut. Tapi dengan jalan pikiran yang berbeda, keadaannya akan berbeda. Ingat The Hunger Games yang sempat dibilang mirip bahkan sama dengan Battle Royale? Mungkin itulah yang akan terjadi padaku. Tapi, kembali, resep yang sama akan berbeda rasa jika diolah tangan yang berbeda. Itulah yang akan terjadi.

Duh, dari yang awalnya ringan-ringan aja kok jadi berat, sih...