Saturday, 18 January 2014

Random Mid Month Post

Hai haaaiii

Rasanya udah lama banget sejak terakhir kali aku ngepost di sini. Um, mungkin delapan belas hari memang waktu yang cukup lama. Udah tengah bulan dan aku masih belum menulis apa-apa, aww jangan kecewa aku di sini sekarang. ;3

Oke, pertama-tama, selamat tahun baru! Semoga kalian nggak berpartisipasi dalam polusi udara dan suara pada malam tahun baru kemarin. Tetanggaku sih dengan senang hati iya, dan aku cuma bisa ganjel telinga pake earset sambil berharap nggak ada petasan nyasar yang ketembak ke dalam kamarku. Dan semoga kalian juga nggak berpartisipasi dalam omong kosong New Year New Me yang sepertinya gencar sekali dilakukan oleh orang-orang! Membuat resolusi sekaligus perenungan mengenai apa yang telah dan belum dicapai di tahun sebelumnya memang bagus, tapi nggak seluruh dunia harus tau, sama kayak nggak seluruh dunia harus tau bahwa kamu lagi memasuki rakaat ketiga salat Magrib!

Maaf kalau aku nggak menanggapi tahun baru seserius yang masyarakat harapkan. Toeeeett!

Pertengahan bulan ini kabarku cukup baik. Dompetku menunjukkan dengan jelas bahwa what matter is beauty inside karena walaupun dompet tua itu penampilannya sudah cukup memprihatinkan, setidaknya masih ada selembaran uang berwarna merah bergambar Soekarno dan Hatta beserta uang berwarna biru yang entah apa gambarnya di dalam. Hore untuk pengencangan ikat pinggang!

Walaupun ikat pinggangku nyatanya nggak mengencang. Sial, kayaknya malah makin lebar. Pertanda harus olahraga nih.

Selain dompet yang masih menyanyikan Timber dengan riang gembira, dengan bangga aku juga mengatakan bahwa bulan ini aku cukup produktif. Aku menamatkan dua trilogi dalam delapan belas hari; trilogi Abandon dari Meg Cabot serta trilogi Ruby Red (atau Time Travelers) dari Kerstin Gier. Tapi yang kubaca full dalam bentuk trilogi dalam satu bulan ini cuma Abandon, karena buku pertama Time Travelers udah kubaca tahun lalu. Jadi sejauh ini, aku udah baca:
  1. Somewhere I'll Find You - Lisa Kleypas
  2. Abandon (Abandon trilogy, #1) - Meg Cabot
  3. Underworld (Abandon trilogy, #2) - Meg Cabot
  4. Awaken (Abandon trilogy, #3) - Meg Cabot
  5. Sapphire Blue (Time Travelers trilogy, #2) - Kerstin Gier
  6. Emerald Green (Time Travelers trilogy, #3) - Kerstin Gier
 Kemudian jurusanku, kelas Bahasa, (sayangnya) beranjak dari angka cantik 13 dan berubah menjadi 14 karena ada seorang gadis pindahan dari Madiun. Menurutku anaknya cukup manis, tapi aku nggak pernah bisa diandalkan dalam membuat penilaian tentang orang-orang. Contohnya, orang itu bisa aja manusia paling baik di mata masyarakat tapi karena dia mengatakan bahwa unicorn itu tidak nyata maka menurutku dia orang paling jahat di seluruh jagat raya.

Oke aku melebih-lebihkan tapi senggaknya kalian mengerti maksudku!

Oh ya, dan meski nilaiku nggak ada satupun yang mencapai IPK sempurna (paling tinggi 3.8) berbeda dengan temanku yang mendapat nilai 4.0, aku toh masih hidup! Nilai bukan segala-galanya, tahu. Dan aku bersebelahan dengan kelas IIS 2 yang, omong-omong, super berisik dan kami cuma dibatasi oleh sekat tripleks yang bahkan tidak mencapai langit-langit. Ooh I so hate high school. Eh nggak juga sih, tapi kalian harus mengakui bahwa empat belas orang melawan tiga puluh sembilan orang dalam membuat keributan jelas menyebalkan. Kami kan kalah telak!

Dan kurasa tidak ada lagi yang harus kusampaikan kecuali bahwa aku sudah memiliki dua cowok baru. Bukan pacar, bukan--sayang sekali. Mereka adalah tokoh rekaan. Tapi sial, mereka ganteng banget! Tapi terserahlah. Why fall in love when you can fall asleep. Yang mengingatkanku pada sesuatu: aku kemungkinan bakal jadi ibu paling payah di dunia. Kalau di hari sekolah anakku bangun dan bilang, "Ma aku gak mau sekolah aku mau tidur seharian," mungkin aku cuma bakal ketawa dan menyelimutinya dan menutup gorden dan mematikan lampu.

Setelah itu, jelas aku sendiri kembali ke tempat tidurku sendiri.

OKE BAIKLAH dan kesadaranku baru saja mengendap menyatakan bahwa kalau ini tahun 2014 berarti a) tahun ini umurku enam belas tahun b) 2012 itu dua tahun yang lalu serta c) hei kalian inget gak waktu kita semua mati Desember 2012 yang lalu?

Dulu aku selalu mengira bahwa mereka yang telah berumur 16-17 tahun sangatlah tua dan merupakan orang dewasa yang belum mencapai usia 20 tahun. Tapi lihat aku dan lihat teman-temanku! How wrong I was! Neko yang udah mau 18 tahun aja masih... well... Neko. Jadi kurasa umur benar-benar hanyalah angka dan huruf.

Sampai bertemu lagi, kawan-kawanku yang baik. *naik ke punggung unicorn* *terbang* *meninggalkan jejak pelangi dari dubur unicornku*

N.B: omong-omong, ini posting ke-150. Hore untuk blogku!

Tuesday, 31 December 2013

Terima Kasih Untuk Hari Ini!

Hari ini aku ketemu Dita! Yeaaaaayyy!!

Buat yang belum tau, Dita itu nama panggilan dari Mudita Nanda (@theslantedone) dan pemilik akun SoundCloud Mudita Nanda serta man behind @Peeta_IHG. Dia itu orang paling tua di [DI]versity, dan yang paling kalem juga. Nah, dari kemarin, Dita itu lagi di Bandung; hari ini kita ketemuan. Janjinya sih di KFC PVJ jam setengah dua belas, tapi aku ngaret keterlaluan baru dateng jam setengah satu >.< Dita pindah dari KFC ke Starbucks, dan tadi dia itu pake celana hijau tua pudar sama kaus hijau. Hehe, hebat ya aku bisa tahu. Iyalah se(tengah)harian aku sama dia kok. Weeekk! :p

Pas di Starbucks kita ngobrol-ngobrol dulu, sambil Dita sibuk ngurus... em... apa itu namanya? Seukuran iPhone tapi dari Samsung. Ah sudahlah, pokoknya ponsel touchscreen. Aku emang gak pernah ngerti yang begituan, huahahah. Nah pas lagi ngobrol, tiba-tiba di kaca jendela sampingku (kita berdua duduk persis di samping jendela) muncul tangan dan muka orang setinggi aku waktu duduk. Spontan aku bilang, "Astagfirullah!" Kirain apaan, taunya anak kecil iseng! Ya ampun Naaakk kurang kerjaan banget sih kamu! Kemudian Dita kasih aku DVD original The Hunger Games. Itu tuh sebenernya hadiah dari kuis #WIOL yang pernah diadain Peeta_IHG, cuma berkat kedodolan kita berdua barulah hadiah itu dikasih hari ini XD Habis ngobrol akhirnya kita mutusin untuk pergi dari Starbucks dan ke Game Master. Untung ada Dita, karena kalau nggak aku pasti bakal ninggalin DVD THG itu di atas meja begitu saja. Ya, sedodol itulah saya, ahahaha!

Sampe di Game Master kita liat-liat dulu bentar, terus isi kartu. Berhubung Dita gak punya kartu Game Master, jadi pake kartuku. Untung aku punya kartunya. Kita isi ulang yang Rp80.000,00 dengan bonus Rp10.000,00. Saldonya jadi Rp90.000,00. Astaga berarti kartu itu tadinya Rp0,00 :| Sehabis isi ulang, kita langsung gesek di mesin Pump It Up. Habis itu kan kita main, dan aku tuh dua dari tiga stage ngambil level 4 alias easy sementara Dita ngambil level 6-7 alias normal/hard (hardly normal?). Karena aku merasa bersalah ngeliat Dita mainnya riweuh di samping aku, akhirnya di stage tiga aku ngambil level 6. Ehh taunya Dita naikin level dia lagi. Yaudah deh. Tapi karena kita berdua sama-sama payah pas main lagu itu (probably levelnya ketinggian) akhirnya di-cut di tengah lagu, dikatain sama mesinnya, pula! "Hey, why don't you just get up and dance, Man?" OKE ITU JLEEEEBBBB XD.

Setelah Dita pake sepatunya lagi (dia main Pump telanjang kaki) kita muterin Game Master, nyari mainan lain. Nyantol lah kita berdua di Initial D, dan kita main masing-masing dua kali. Berhubung aku beres duluan daripada Dita, aku liatin dia main dari balik punggungnya. Terus kan ada anak kecil duduk di depan stir Initial D gitu, aku tanya, "Mau main?"

"Nggak kok Teh," katanya sambil tersenyum malu-malu.

"Mau digesekin?" tanyaku.

"Bener Teh? Mau!" sahut anak itu. Huahaha dasar anak-anak, mudah banget ditebak gak kayak remaja macam aku yang complicated XD

Jadilah aku gesek kartuku sekali, dan aku bantu dia pilih mobil sampe pilih trek. Akhirnya Dita beres, dan aku pamit sama anak itu. Bangga banget kayaknya dia, bisa main drifting ala Initial D, gratisan pula. Heboh banget dadah-dadahnya padaku waktu aku pergi. Lewat dari sana, aku sama Dita akhirnya main Time Crisis 4 dan di situlah kartu Game Master-ku sekarat XD Kita main Link Play (berdua) dan itu sampe Stage 2 masih bertahan astagaaa. Biasanya kalau aku main sendiri, paling banter pertengahan Stage 1 udahan (antara males ngelanjutin dan saldo udah abis). Tapi mungkin karena faktor ada temen main, akhirnya kita bergantian saling menggesek itu kartu tiap kali kita mati. Entah berapa kali itu kartu digesek. Yang pasti, waktu pertama main TC4 itu saldonya kalau gak salah Rp80.000,00 dan sekarang tinggal Rp400,00!

Pokoknya itu rame sekali saudara-saudaraaaahhh.

Berhubung saldo kartu udah habis, kita beranjak ke Gramedia. Biasalah; kalau ke mall gak ke toko bukunya tuh rasanya kayak berdosa gimanaa gitu. Tapi ya tipikal juga, masuk ke dalam nggak beli buku. Harga buku sadis men! Daripada demo turunkan harga BBM, mending jargonnya diganti jadi Turunkan Harga Buku! dan Naikkan Harga Rokok! *kemudian saya diamuk massa*

Kayak di semua tempat lain di PVJ yang tadi kita datengin, ya kita ngobrol-ngobrol sambil liat-liat buku. Ngobrolnya macem-macem, dari satu topik ke topik lain; gak harus ada linking khusus. Kan ngobrolnya spontan, gak ditulis script dulu. Tapi berhubung lagi di toko buku ya obrolannya gak jauh-jauh dari buku. Akhirnya Dita ngajak makan, dan aku menyetujui dengan RIANG karena aku baru sadar perutku lapar waktu dia ngajak makan. Itukah yang dinamakan telmi?

Setelah muter-muter nyari tempat makan, akhirnya kita makannya di KFC, tempat janjian awal XD Kita berdua duduk di tempat yang PERSIS berhadapan dengan tempat duduk kita tadi waktu di Starbucks (lahannya Starbucks sama KFC tetanggaan). Dita pesen makanan, dan aku nungguin meja, takutnya ketiup terus padam. Eh, oke, itu salah. Aku nunggu rada lama, soalnya tadi kita liat sekilas juga di dalem tuh yang ngantri PENUH. Sambil buang waktu aku nulis-nulis gitu kan. Tetiba di samping aku ada orang berdiri, taunya Dita. Heee tumben aku bisa nunggu tanpa ribut, biasanya susah banget nunggu lebih dari lima menit (dasar manusia standar ganda).

"Ini tadi berapa, Dit?" tanyaku sambil nunjuk makanan.

"Ha? Oh, udah, gapapa."

"Nggak, um, di bawah Rp40.000,00?" tanyaku, karena Dita bilang dia mau balikin uangku senilai itu untuk mengganti waktu ngisi saldo kartu, soalnya pas ngisi pake uangku yang selembar warna merah ada gambar Soekarno-Hatta. "Kalau kurang, sisanya gak usah dibalikin," lanjutku. Maksudnya, kalau lebih dari segitu, mau aku bayar sisanya.

"Gak apa-apa kok," kata Dita sambil mulai menata makanannya. "Oh iya, ini aku balikin uang kamu."

"Gak usah Dit!"

"Udah, ambil." Dia menyodorkan paksa dua lembar Rp20.000,00.

"Um, kalau gitu, ini yang dua puluh rib--"

"Aku yang traktir."

Aku diem, ngeliatin dia. "Kamu tuh jago banget ya bikin orang speechless!"

Dita ketawa. "Yaudah deh," kataku, "makasih."

"Sama-sama," balas Dita sambil tersenyum.

Dan pada saat itu aku baru menyadari bahwa... bulu mata Dita itu ternyata turun, menghalangi mata dia. Duh kok bisa baru sadar sekarang sih.

"Jadi itu apa?" tanya Dita.

"Apa yang apa?" aku menelengkan kepala, menaikkan alis.

"Itu," ujarnya sambil menunjuk buku yang buru-buru kututup begitu ia datang.

"A," aku nyaris tergagap (tolong sadari kata NYARIS--gue gak semudah itu tergagap men! :v), "bukan apa-apa sih. Corat-coret."

"Ooh."

Dan kemudian kita makan.

Dan beres kita makan, nggak seperti yang selama ini aku lakukan yaitu get up and go (cie kayak lagu Pump aja), kita malah duduk dan ngobrol gak jelas. Oke, aku yang gak jelas. Eh, Dita juga agak gak jelas sih. Kan orang gak jelas temenan sama orang gak jelas. Oke ini mulai OOT.

Dan salah satu yang kita omongin adalah... DIZA REFENGGA!

*Ret tereret tet teeet*

"Kebayang kalau suatu saat kita jalan bertiga," kataku.

"Hahaha!"

"Dan pada saat itu ada fans dia dateng, dan waktu dia ladenin fansnya kita pergi. Waktu dia panggil..."

"Siapa ya?"

Ahahahahahahahahahahahaha...!

Memang, satu lagi anggota [DI]versity adalah Diza, dan dia lagi semacam naik daun saat ini. Makna konotasi ya, bukan denotasi. Nggak kebayang deh Diza naik daun beneran, salah-salah tuh daun malah diinjek di atas tanah lagi.

Pokoknya kita berdua--aku dan Dita--itu ngobrol asyik banget, sampe gak kerasa ternyata udah jam setengah lima. Akhirnya kita pamit satu sama lain, dan aku pulang. Meskipun kakiku sakit dipake main Pump dan nahan pedal Time Crisis serta keliling Paris Van Java yang gedenya tega banget, rasanya ketemu teman, apalagi yang jarang banget ketemu, itu seneeeeeeng banget. Saking senengnya aku bete sama teman pun aku pake emot <3. Ahaha, itu bukan emot cinta, tapi emot less than three.

Terima kasih untuk hari ini, Mudita Nanda! Terima kasih untuk jalan-jalannya, untuk capruknya, untuk mainnya, dan untuk traktirannya! See you soon, hopefully with complete [DI]versity members!!

Dan terima kasih sudah membaca!

Thursday, 26 December 2013

Somewhat Menopause Middle Aged Woman Saying

Someone told me, that you found somebody
Found somebody new
I'm happy for you
Maybe that's why I don't hear from you

Like I used to
Like a faded photograph
Some moments in the past

But sometimes
Sometimes

I miss you missing me
Calling me on the phone
Asking me how I'm doing
Asking if I'm alone
I miss you missing me
I miss you missing me

*
*
*

Pretty much what I'm feeling. Watching your ex-more-like-little-brother grow is not something easy to do. Especially when he is now becoming a known actor and every girl is just head over heels on him and I feel like somehow, I must protect him, you know, like, I'm afraid that some of his fans--or FANGIRLS I should say--is going to let him down. Oh my gosh, really, I feel like some middle aged woman that watches over much too handsome gigolo wait what.

He's not a gigolo, if that's what you want to know. He has some talent in that, tho. Because puberty does him good--something that bitch didn't do to me. Oh yes I'm surrounded by well treated by puberty boys. Life is indeed unfair.

My girl friends envy me tho.

And you know what's gross? Seeing all his fangirls call him like... "kakak" "abang" and "laff yu bang" is like... ergh... I wanna vomit... I could be fangirling over books and movies but I never remembered ever fangirling like that. And they even told me to stop scolding him because "dia kan abangku".

BITCH I'VE PROBABLY KNOWN HIM LONG BEFORE YOU KNEW HIM SHUT THE FUCK HELL UP I KNOW WHAT I'M DOING KAY.

Scolding people is my way to show them how much I love them! Like really I rarely says I love you instead I said fuck you douchebag, your mom is the unluckiest person ever. Really, when I call you something bad you probably should be proud because that means I love you.

Well fuck this shit! At least his girlfriend isn't like his fangirls. Those are what you call...

Ababil.

Sunday, 15 December 2013

Things Oversaid

Jadi hari ini aku mau bahas tentang kata-kata yang overused, atau, lebih tepatnya, oversaid. Entah karena emang itu lagi ngetren atau gimana, yang pasti kalau scroll TL pasti nemu kata itu lagi dan itu lagi (jiah, makanya, follow akun yang bermutu dong Dill :v).

Dan inilah kata-kata yang - menurutku - terlalu sering diucapkan dan perlu diganti dengan kata lain!

Galau :( [dan curhat dari hati terdalam lainnya]
   Seiring dengan kemajuan teknologi, memberitahu orang lain tentang kabar kita sudah menjadi semakin mudah. Surat digantikan oleh e-mail dan telegraf digantikan oleh telepon. Ketika situs jejaring sosial (sosmed) diperkenalkan pada masyarakat kita yang - uhuk - konsumtif - uhuk - maka semakin mudah pula bagi orang-orang untuk mengetahui apa yang sedang terjadi pada suatu individu, apalagi dengan media microblog semacam Twitter yang terbatas 140 karakter. Kadang saking panjangnya curhat, bisa memanjang jadi beberapa tweet. Tapi serius, masalahmu itu masalahmu. Orang-orang nggak akan peduli kecuali a) masalahmu terkait dengan mereka atau b) mereka pikir kau pantas mendapat masalah itu. Yang, omong-omong, melihat panjangnya tweet curhat soal masalahmu, jelas kau pantas!

Pacarku menyebalkan! [dan problema antar pasangan lainnya]
    Sama seperti masalah pribadimu, nggak ada yang mau tahu tentang apa yang terjadi antara kau dan pasanganmu. Anggaplah kau dan pacarmu (atau kekasihmu. Atau suamimu) tinggal di sebuah rumah bersama. Apa yang kalian lakukan di dalam rumah itu, baik ataupun buruk, nggak perlu diumbar. Kalau mau diumbar, umbarlah yang baik saja. Kalau kamu mengeluhkan masalah antara dirimu dan pacarmu lalu ada orang yang masuk di antara hubungan kalian, nggak seharusnya kau tuduh dia PHO - Perusak Hubungan Orang - karena kaulah yang memberitahunya celah di mana dia bisa menyelinap masuk!

Huhuhu, tugas kok banyak bangeet!
   Setiap hal datang bersama hak dan kewajiban. Kalau kau pelajar, hakmu adalah mendapat ilmu dan kewajibanmu adalah untuk belajar. Kalau kau pegawai, hakmu adalah mendapat gaji dan kewajibanmu adalah menuntaskan pekerjaan. Nggak seharusnya kau mengabaikan salah satunya. Kalau kau tidak mau melakukan kewajibanmu, jangan menuntut hakmu. Kalau kau nggak mau mengerjakan tugas sekolah, ya nggak usah sekolah! Ribet banget haduh *face palm*

Gadget baru nih [dan ucapan pamer lainnya]
   Aku gak bakal bohong, aku paling bete sama poin things oversaid ini. Semacam campuran antara rasa iri dan merutuk. Perbandingannya iri : merutuk mungkin 1 : 2. Duh, plis ya, nggak semua orang bisa seperti kamu atau memiliki hal-hal yang kamu miliki. Dan aku merutukimu karena setelah itu kamu bilang "haters gonna hate" dan blah blah, menyalahkan orang lain menganggap mereka iri dan orang iri nggak mampu. PUHLEASE. Memangnya salah mereka kalau mereka bisa membedakan mana PERLU mana INGIN? Well sebenarnya itu salah mereka tapi bukan itu maksudku! Berhentilah memamerkan hal-hal yang kamu miliki. Diam dan tunjukan tanpa pamer. Kesannya bakal lebih berasa tau.
   Dan memangnya kamu ngapain aja sampe perlu banget kamera SLR dan Android dan iPhone 5? Seriously. Paling ujung-ujungnya buat ngedit foto.

Nggak ada yang peduli padaku!
   Aku gak bakal bohong, aku juga kadang berkata begini. Tapi serius, nggak benar-benar gak ada yang peduli padamu. Kalau teman-temanmu nggak peduli, keluargamu peduli. Kalau keluargamu gak peduli, teman-temanmu peduli. Kalau mereka semua nggak peduli, terkadang ada seseorang yang bahkan tidak kamu ketahui ada yang peduli padamu. Serius. Ini pengalaman pribadi. Bukan, aku bukan yang dipedulikan. Aku orang yang tidak diketahui ada dan peduli. HAHAHAHAHAHA *ketawa miris sambil asah pisau*
   Kembali ke subjek. Setelah dipikir-pikir, mungkin rata-rata orang mengatakan bahwa tidak ada yang peduli pada mereka adalah supaya orang peduli pada mereka. Tapi praktiknya nggak semudah itu. Tau matahari, gak? Nah, dunia berputar mengelilingi benda itu, bukan dirimu. Mau merengek bagaimanapun juga, kalau orang nggak peduli, ya nggak peduli. Ingat, bayanganmu sendiri meninggalkanmu waktu gelap.

Aku orang paling sengsara di dunia.
   Sebenarnya, nggak semuanya menyatakan dengan gamblang begini. Rasanya, lima belas tahun aku hidup baru satu atau dua orang yang kudengar menyatakan hal ini secara langsung. Mudahnya begini: apakah kamu nggak punya teman satupun? Nggak punya rumah tempat bernaung? Nggak punya keluarga yang memberi perlindungan? Belum makan dan minum selama berhari-hari? Terjangkit penyakit mematikan yang belum ada obatnya? Jelek teramat sangat? Bodoh kebangetan? Matamu berada di lutut?
   Kalau kamu nggak menderita semua itu, berarti kamu bukan orang paling sengsara di dunia. HADAPILAH, QUASIMODO, MASIH ADA ORANG-ORANG YANG LEBIH SENGSARA DARI KAMU. HADAPILAH KENYATAAN YANG PAHIT INI.

Dan yang terakhir adalah...
If you know what I mean.
   Seriously. The trend is over. Get over it. 

Thursday, 12 December 2013

Three Quizzes!!!

So I was just being bored and clueless about what I'm about to do when I remembered my Fifty Shades e-book novels. I had these new trilogy about Fifty Shades, but it's written from Christian's point of view. But what I'm about to say has nothing to do with Fifty Shades. Well, it does, but not the way you'd think.

Christian is the D and Ana is the (failed) Sb. Christian is also an S but let the truth be forgotten because he never really hurt Ana unless when he hurt himself and those ones doesn't count because I love Christian Grey I'd go down for him.

Just kidding. Half kidding.

And since my wifi is finally repaired (good bye to those dark days in cave!), I went to Google and fucking typed fucking random quizzes that I thought of.

It turned out, it's a D/s quiz.

And just so you know, I took three quizzes - THREE!!! - and the answer is always the same.

"You are a D."

Can anyone give me a whip? Or a handcuffs? Because I'd like to cuffed someone then spank their asses really fucking hard just kidding I'm no person like that.

Seriously? I indeed love Christian Grey, which is, by the way, is a D, but that doesn't make me a D, does it!? There is only one way to prove it and I'm not proving it now just yet. Oh, and also, I took the seme/uke quiz and I got Seme which, by the way, Japanese way of calling the 'male' or the 'alpha' in homosexual relationship.

And my friend just got Uke! If she is also a Sb I won't be too surprised I'll probably take her to... no, not Timbuktu. That place is too fucking crowded I'll take her into some abandoned island and live happily ever after with unicorns and cats.

And why am I even telling you this!? This is on my blog everyone gets to see it! Oh shit, my parents are reading my blog too! Let's hope that they would think I was talking about some crazy Spanish shit because that's probably the only thing they wouldn't understand even if someone explain it to them until sharks become vegetarian lol just kidding I love you mom. And dad. Don't forget the dad. Err... my dad. Or dads?

Nah, fuck it.