Tuesday, 8 July 2014

Farewell

You were such a good friend
You'd stand there with me and hold my hand
You'd remain silent and listen to my complaints
You'd pat my back when I did something I am proud of

You were such a good friend
So good that I thought you were my best friend
Although I'm afraid to believe in such thing
For best friend and I, we had history

But apparently I wasn't such a good friend
I'd envy those who get more times spent with you
I'd ignore you for hours when I feel that I don't need you
And I'd try to control every single thing in your life

I've never been a good friend
Yet you choose to stay
And I don't know if the disappointment I feel towards you
Because you didn't like I expected you to be;
Or because you had other friends than I;
Or because you don't get the hints that we just weren't for each other

Either you or I, we were both not such a good friend
Because we stick together in the name of times we spent
Rather than similarities;
Or even because we like each other that much

And it's not because we are bad person
We just don't fit with each other anymore
As our worlds drift apart, you tried to hold on
But I'm letting go

Thank you for being such a good friend;
Yet you have your flaws
I loved you back then;
But I think it's time for us to say goodbye;
And leave while sweet memories last.

Saturday, 5 July 2014

C:

Jadi, sekarang adalah bulan Ramadan, bulan suci bagi umat Islam. Dan ada hal yang menggangguku soal bulan ini, mungkin udah jalan beberapa tahun (paling dua-tiga tahun :v).

Muslim Indonesia tuh, manja banget, ya?

Bayangkan, cuma karena mereka - kami - berpuasa, jendela-jendela dan pintu rumah makan/restoran/warung harus ditutup. Beberapa bahkan tutup total (terutama model kayak usaha pribadi). Um, oke, usaha rumah makan pribadi itu memang mengandalkan mereka yang nggak puasa, jadi waktu weekend bakalan tutup (soalnya nggak pada kerja, jadi gak pada istirahat siang... ngerti tak?). "Lokalisasi" (kalau kalian ngerti maksudku) dan tempat orang membuang-buang uang mereka berharap peruntungan bisa mengembalikan uang mereka berlipat-lipat (dan biasanya gagal, karena bandar yang menang banyak - iyalah!) harus ditutup. Orang gak boleh makan di muka umum.

Semuanya atas nama "toleransi".

Whoa, wait a sec, bud. Jadi maksudmu, karena kamu nggak boleh makan dan minum dari matahari terbit hingga matahari terbenam, maka orang lain pun nggak boleh - setidaknya nggak di depanmu? Hanya karena kamu diperintahkan untuk menahan nafsumu dari matahari terbit hingga matahari terbenam, maka orang lain pun nggak boleh melampiaskan nafsu mereka?

Wow, ternyata Muslim adalah orang-orang egois. Yah, senggaknya Muslim Indonesia.

Ada sebuah opini yang mengatakan bahwa hal seperti itu terjadi karena Muslim di Indonesia merupakan kaum MAYORITAS. Dan hal itu membuat mereka merasa that they can get away with anything. Istilah lainnya, ngelunjak.

Dikasih hati, minta ampela! Oalah, rupanya dia tukang bubur yang belum juga naik haji!

He he.

But let's be real. Banyak hal dilakukan atas nama agama throughout the history. Beberapa buruk, beberapa lainnya lebih buruk (eh?). Dan pembentukan ormas-ormas seperti *uhuk* mereka yang mengaku membela Islam *uhuk* sama sekali tidak membantu. Yang miris adalah, semakin banyak orang yang beranggapan bahwa Islam adalah agama yang penuh dengan kekerasan.

Aku bukan seorang ahli agama (hell, aku bahkan nggak yakin kalau dites sekarang, aku bisa menyuarakan bacaan salat dengan benar!), so I won't go deep in that. Tapi, yang kutahu dan selalu diajarkan padaku adalah bahwa Islam merupakan sebuah agama yang penuh cinta dan mencintai kedamaian (love thy neighbor... eh salah subjek). Islam bukanlah agama yang mencintai kekerasan apalagi perang dan pertumpahan darah. Muslim hanya akan berperang jika mereka dikonfrontasi duluan dan jika memang harus (istrimu diculik pria dengan nama seperti ibukota Prancis? No need for a war, Bung! Lagipula istrimu jatuh cinta pada pria itu). Dan kurasa, di negara-negara tempat di mana Muslim merupakan kaum minoritas, tingkah mereka nggak seperti Muslim mayoritas di sini deh. Although aku belum pernah meet one in person. Tapi ayo kita berpikir secara logis.

Logikanya begini:
Muslim minoritas akan jauh lebih menghormati non-Muslim, mereka kan, kaum minoritas. Tahu diri dong. Muslim minoritas rasanya nggak akan deh mengomeli kaum non-Muslim kalau makan/minum siang hari bolong waktu mereka lagi berpuasa. Duh.
Muslim Indonesia akan jauh lebih keras berkoar-koar tentang toleransi dan menghargai sesama. Maksud mereka adalah, "Kami sedang berpuasa jadi kamu juga harus ikutan puasa karena itulah maksud dari toleransi". Sad but true.

Banyak yang tidak menyadari bahwa toleransi berlaku dua arah. Kalau seorang tetanggamu yang non-Muslim sedang beribadah atau berdoa atau apapun yang berhubungan dengan kegiatan keagamaannya lalu kamu mengganggu, maka kamu berperilaku intoleran. Tapi kalau mereka protes padamu, ya hakmu dong untuk menyetel musik keras-keras. Salah mereka karena beribadah di sana, ya kan? Persetan dengan agamanya.

TAPI.

Ketika kamu sedang tidur siang menunggu waktu berbuka kemudian tiba-tiba tetanggamu mengadakan acara keluarga yang RIBUTNYA MINTA AMPUN, kamu berhak protes. Oiya dong, kan kamu lagi puasa, lagi menjalankan perintah Tuhan sekaligus beribadah. Udah sabar-sabar nahan diri, ehh ini malah nyulut amarah. Gak tau ya, kamu lagi puasa? Dasar nonis gak tau diri! Tuh kan, gara-gara dia mengganggu tidur siang merangkap ibadahmu, kamu jadi marah-marah. Hilang deh, pahala puasa yang susah payah kamu kumpulkan. Dasar tetangga kafir!

:)

Bulan Ramadan adalah bulan yang penuh berkah, tapi juga bulan paling sulit. But if it's worth it, it won't come easy. Kamu harus bersabar, menahan diri, menahan nafsu, menolak godaan. Tapi mereka yang membuatmu kesal, makan/minum di hadapanmu, mengonsumsi alkohol, dan menggodamu bukan serta merta setan. Ingat, setan sejati itu ada di dalam dirimu sendiri. Lagipula, kan setan dikurung selama sebulan ini di penjara, main gapleh sama eSDeA. Mereka yang membuatmu tidak sabar menantikan waktu berbuka bukannya berusaha menjegalmu dari ibadahmu. They're just simply living their life.

Selamat bulan Ramadan, semoga para Muslim Indonesia bertengkorak superkeras yang merasa diri mereka patut dinomorsatukan karena mereka MUSLIM MAYORITAS bisa mikir dikit.

Mohon maaf sekecil-kecilnya. C;

N.B: Judul dan huruf terakhir yang kutulis itu emot (putar layarmu ke kiri supaya bisa lihat).

Wednesday, 25 June 2014

Holiday Journal

Day 4
Ready to kill myself out of boredom.

Day 5
Found something to do, but it was done quickly;
Feel tickled that half population of Indonesia are pure idiots that even "real" idiotic people seem smarter than they are;
Wish to kill that half population.

Tuesday, 17 June 2014

Friendship = Friendshit?

THIS WORLD IS KA-RAY-ZEEE!

First of all, AKU GAK PERNAH MINTA DILAHIRKAN SEBAGAI MANUSIA! Ini nggak adil! Aku udah hidup selama lima belas tahun sepuluh bulan delapan hari sebagai manusia dan AKU GAK PERNAH MINTA! Tau-tau aja aku udah lahir sebagai manusia. Ini nggak adil! Gimana kalau aku cuma kepengin jadi BEBEK LUCU di kolam SEMPIT dengan LUMUT-LUMUT di pinggirnya?

Second of all, HOLIDAY IS HERE! HUZZAH!! Libur telah tiba, libur telah tiba, hore! chacha HORE!!

Well technically aku baru secara resmi libur Jumat nanti setelah raporku dibagikan, tapi hei, nggak ada remedial whatsoever jadi apa gunanya ke sekolah? Terutama karena kecenganku nggak bersekolah di sekolahku dan kalaupun iya dia pasti lebih milih nganggur di rumah atau hunting foto-foto.

He's a photographer.

Ahhhhhhhhhhh x3

Suara barusan ambigu. Lupakan.

O-kay. So here goes the real blogging. Was that not real smh.

I'm a princess, I'm a cute little princess~

Let's get things started! I have this friend yang menganggapku sahabatnya (:v). Well, dia nggak buruk-buruk amat, and in fact I kinda loves her (aww). But seeing my history with friendship, aku belum pernah lagi menyebut orang sahabatku kecuali mereka yang nyebut duluan. Jadilah kami bersahabat. She's fun to hang out with karena dia lucu dan entahlah, kami sama-sama 'aneh'. Jadi kurasa aku menyukainya karena aku merasa ia mengerti aku. Mungkin memang begitu. Aku merasa aku juga mengerti dan mengenalnya, tapi manusia kan makhluk fleksibel. Meheh.

Right now, I'm not going to complain about her. She's amazing and funny. YET I already know that it's coming.

Karena satu dan lain hal, kami bersebrangan. Yah, bukan hal baru sih. Kami bersebrangan dalam beberapa hal, TAPI kami selalu bisa ngobrol dan ngomongin masalah itu. Mungkin karena alasan jarak? Karena kami udah dua minggu nggak ketemu, dan obrolan terakhir kami itu agak-agak hehehe. Jadi kurasa karena itu.

Omong-omong, apa sih sahabat itu? What is this 'best friend' thingy every bitch crazy about? Dan kenapa di setiap tulisanku aku harus bertanya? Aw man.

So I looked it up on Google, and it says:

best friend
Web definitions
  1. the one friend who is closest to you
    http://wordnetweb.princeton.edu/perl/webwn?s=best friend
Jadi sahabat adalah seorang teman yang sangat dekat dengan kita. Aw fuck does that mean I have no bestie? :c

Sementara menurut http://nuranuraniku.blogspot.com/2012/01/apa-arti-sahabat.html, "seseorang yang selalu ikut merasakan seperti ketika mendapat kesulitan, kesedihan, masalah maupun di kala mendapat kebahagiaan."

Which is kind of not fair. Tunggu dulu! Jadi kalau aku yang merana gegara hilang duit, dia juga harus ikut merana demi menjadi seorang sahabat? Dan waktu dia merana gara-gara diputusin pacarnya, aku juga harus ikut merana karena aku sahabatnya? Wtf man.

Manusia punya cara yang unik dalam membuktikan persahabatan.

Also there is some weird conclusion that kalau kamu udah berteman dengan 'sahabat'mu selama lebih dari tujuh tahun, kalian akan berteman selamanya dalam suka dan duka hingga maut memisahkan. Tunggu dulu! Siapa yang memutuskan begitu? Dan kenapa pula harus tujuh tahun? Gimana kalau aku maunya enam tahun aja? Atau sembilan? Yang pasti bukan kedua angka itu digabungkan. Err.

Hei, tau gak, aku punya rencana: di hari ulang tahunku yang ke-69 nanti aku mau ketawa aja seharian sampai puas. Wait what. Nvm.

Oke, jadi secara umum, sahabat adalah teman yang dekeeeett banget sama kita dan kenal kita luar-dalam (aw it tickles). Kemudian, sahabat juga selalu mendukung kita waktu kita lagi down dan berbahagia untuk kita waktu kita lagi up. Up up up. Up in my air balloon, air balloon, air balloon, ha!

Kalau kalian baca tulisanku yang lain (betapa manusia itu busuk!), kalian akan tau bahwa pada dasarnya aku agak-agak gak percaya orang bisa berbahagia untuk keberhasilan orang lain. Maybe it's just me, mungkin aku orangnya memang sepicik itu (ha!). But yu kno mai name not mai stori.

Sorry, that was some thug swag child comment I found on YouTube.

Oke, again, aku nggak bener-bener percaya bahwa orang bisa berbahagia atas kesuksesan orang lain. Well, mungkin bisa, kalau mereka tertarik pada hal yang berbeda dan bukan rival. Hei, anything could happen, right?

BAGAIMANA KAMU BISA MEMERCAYAI ORANG YANG KAMU ANGGAP SAHABAT!?

Don't get me wrong, ada orang-orang yang kupercaya di dunia ini (aku) yang kira-kira sama kecenya denganku (aku) dan bisa meng-handle segala keabsurdanku (ibuku -- meh). But... from a complete stranger? How'd you do that man, that's sick. Maksudku, kepercayaan memang dibangun selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, tapi kan ada tesnya juga, ada percobaannya juga. Dan percobaan ini hanya bisa dilakukan kalau kamu memutuskan untuk MEMERCAYAI orang asing itu, bahkan walau cuma sedikit. Me myself menganggap diriku pada dasarnya nggak begitu mudah percaya orang. Which is probably kind of weird, karena dalam waktu sepuluh menit bersamaku kamu udah bisa tau nyaris segalanya tentangku. But that's the thing, sementara orang lain mungkin karena nggak percaya sama orang lain jadi menutup mereka, aku malah ngoceh (karena (1) itu cacat sejak lahir dan (2) I'm just fucking awesome), namun kalau kamu memerhatikan, mungkin kamu akan menyadari bahwa aku nggak secara spesifik bercerita tentang sesuatu pada A yang tidak kuceritakan pada B.

I don't trust people equally, makanya dalam curhat aku nggak bikin strata siapa dapat curhat tingkat apa. c:

Dan kalau dipikir lagi, all these friendship shit are so weird. Itu semacam diskriminasi, kalau kamu mau membuang waktu nggak berharga dari kehidupan menyedihkanmu itu untuk memikirkannya. Kamu ketemu banyak orang terus kamu ketemu satu orang yang you're just like, "I like this bitch. I'm gonna do shit with this bitch." then BAM! sebuah persahabatan terbentuk.

WHAT. IN. HELL.

Yeah mengingat keanehan dan serta carut marut masalah pertemanan ini, menurutku memang pantas hal-hal tentang pertemanan dan persahabatan disebut friendship shit (like, you know, as in "shit" for the replacement of "things" because my generations is full of thug assholes) yang kalau disingkat...

F
R
I
E
N
D
S
H
I
T
.

Have a good day, M'Lord and M'Lady.

Satu Kata: Manusia.

Membuang identitas diri jauh-jauh;
supaya orang menerimamu
Menutup keyakinan dan ideologi dalam boks tua;
karena mereka bilang itu tidak benar
Menyerahkan yang berarti dunia bagimu;
demi mendapatkan ilusi tentang dunia
Mengabaikan hati nuranimu;
karena itu tidak awam

Mereka menelanjangi diri mereka;
demi sekadar share di media sosial
Mereka membuat diri mereka lapar;
karena berat badan mereka di atas empat puluh kilogram
Mereka menghabiskan uang maya;
untuk membuat kagum orang yang bahkan tidak peduli

Kalian bersedia mengikuti;
asalkan banyak orang lain mengikuti
Kalian bersedia digiring;
seperti ternak menuju rumah jagal
Kalian bersedia tenggelam;
demi sebuah pengakuan semu
 
DAN KALIAN MENYEBUTKU GILA.