Sunday, 20 April 2014

Alexz Johnson

Another under radar singer; I love her, really really love her. She says something from her songs, even if it's just about breakups but she said it in kind of beautiful way. Nah I've never been good at judging people (even the positive judgment ones), but I love her.

Have I said that already?


That one is my favorite. Number one? Kind of. I love the people in the background, especially that little brown kid, looking surprised that he just ran right into a set of music video shooting. I love kids. When they're quiet and like hundred miles away. :)


This one delivers a great message, even clearer in the video. You're not alone. You never are. Someone somewhere is there having the same problem or difficulty as you're having right now. And someone somewhere will be there to listen, or just accompany you. Cried and cried and cried.


video
 And my current favorite.

It's not like I want to leave anybody behind or shutting someone out. Well yeah, maybe someone. Some people I'd like to shut out and leave then forget they ever exist. But this world isn't a granting wish machine.

Cause In The End, We're All Gonna Die

18.39 pada hari Minggu berhujan and I'm freaking out!

Jadi aku - ehem - mencukur ketiakku (hey, most girls do that so shut up) waktu aku baru ngeh ada tonjolan kecil di ketiak kiri. Itu bahkan nggak bisa dibilang tonjolan, karena lebih mirip bola superkecil yang menempel. Dan aku dengan begonya berusaha mutusin bola superkecil itu. Dan baru terpikir olehku bahwa bisa aja itu semacam bakal kanker yang kalau dibiarin nggak akan menyebar tapi karena udah kepalang oh ya udah.

Aku seduh teh.

Nite, folks. Aku tiba-tiba mendapatkan ilham sewaktu bangun tidur siang tadi. Itu, dan sakit kepala mengganggu yang hanya bisa disebabkan oleh kebanyakan tidur but such thing as too much sleep doesn't exist so your argument is irrelevant. Berhubung aku udah berhari-hari nggak ngeblog, terpikir olehku untuk nulis itu di blogku yang cantik ini. Iya, aku tau aku cantik. Makasih.

Aku bukan orang yang suka membicarakan kematian. Aku nggak tahu apakah setelah kita mati nanti kita akan menghilang begitu saja atau menyeberangi dunia menuju tempat yang mereka sebut surga dan neraka. Yang pasti, nenekku teramat sangat yakin bahwa setelah kita meninggal ini amalan kita semua akan dihisab dan itulah yang menentukan kita masuk Surga atau Neraka. Aku bahkan nggak tau apakah surga dan neraka itu beneran ada. Tapi untuk jaga-jaga, yaaa begitulah. Omong-omong, aku paling takut mati. Takut Mati ada di urutan kedua setelah Kegelapan dalam daftar hal-hal yang kutakuti, diikuti dengan Punahnya Coklat dan Tertinggal. Aku takut mati karena aku nggak tau apa yang akan kuhadapi nanti setelah aku mati.

Malaikat penanya di alam kubur?

Ketiadaan?

Atau terkutuk berjalan di atas bumi tanpa cangkang?

Tapi bukankah kita semua begitu? Bukan soal matinya, tapi soal nggak ngertinya. Manusia pada dasarnya takut pada hal-hal yang tidak mereka mengerti. Bukankah orang yang tidak mengerti tentang bencana alam cenderung takut pada bencana alam? Bukankah para mutan ditakuti oleh para manusia karena Homo Sapiens itu tidak mengerti terhadap mutasi mereka?

Oke aku kebanyakan nonton X-Men. Tapi, hei, emangnya aku salah? Cyclops dan Wolverine kan ganteng banget. Tapi Jack Sparrow tetap di daftar teratas. Omong-omong, si Iceman itu imut juga ya.

Dan karena aku takut banget sama yang namanya mati, kali ini aku nggak mau membahas soal kematiannya, tapi apa yang harus dilakukan sebelum kematian itu sendiri. Tuh kan detak jantungku jadi meningkat. Tuh kan dadaku sesak. Tuh kan punggungku dingin. Ah sialan.

Aku percaya bahwa semua orang bebas melakukan apapun yang mereka inginkan, selama hal itu tidak mengganggu orang lain. Ingat kutipan Negativisme yang pernah kusebutkan di salah satu post? "Batas kebebasan kita adalah kebebasan orang lain". Artinya, kita bisa dan boleh melakukan apapun, apapun, sebebas-bebasnya asalkan tidak mengganggu kebebasan orang lain. Kebebasan dalam bentuk apapun.

Yang mana, berarti meski kalian boleh melakukan apapun, jangan merokok di tempat umum dan/atau tempat mayoritas orangnya bukanlah perokok. Hei, kalian baru saja melewati batas kebebasan orang lain! Kebebasan untuk menghirup udara bersih dan segar yang technically udah tinggal mitos perkotaan ada tapi persetan denganmu.

Tapi sebenarnya kalau kita mau membahas lebih jauh, aturan 'kebebasan kita terbatas oleh kebebasan orang lain' bisa jadi sangat mengikat, bahkan jauh lebih mengikat dari peraturan-peraturan rumit yang mereka buat di gedung megah dan mewah di Jakarta itu. Apapun yang kita lakukan, kita selalu terbentur oleh batas kebebasan orang lain.

Jadi, terserah, lakukan apapun yang kamu mau, dan kalau seseorang protes tentang itu (disertai argumen yang masuk akal), kamu hormati protesnya dan jangan lakukan hal itu di dekatnya, atau dalam jarak pandangnya. Contohnya, temanku Lynn bilang dia nggak suka orang yang bertato, jadi aku nggak pernah menunjukkan tato padanya.

Karena pada akhirnya, kita semua bakalan mati. Jadi jalani hidupmu semaumu, dan kalau ada orang yang gak setuju, acungkan jari tengahmu.

Yeah, interpretasi kalian akan beragam.

Wednesday, 9 April 2014

Mari Berpesta!

Selamat hari Rabu menuju Kamis bagi yang merayakan!

Selamat pesta demokrasi bagi Indonesia!

Pagi hingga siang tadi, setiap warga negara yang telah cukup umur (kecuali aku, huehehe) telah menyumbangkan suara mereka dalam menentukan nasib mereka sendiri selama lima tahun ke depan. Kenapa nasib pribadi alih-alih bangsa? Yah, bukankah mereka adalah bagian dari bangsa? Begitu pula adik-adik, anak-anak, saudara-saudara mereka yang lebih muda yang belum dapat memilih para pemimpin. Jadi kalian yang masih menganggap bahwa pemilu hanya sekadar 'mencoblos', yakinilah, kalian telah meremehkan salah satu titik terpenting hidup kalian di sebuah negara demokratis. Yaaahh, bukan masalah sih kalau kalian yang bodoh dan memilih asal-asalan cuma sedikit, masalahnya seringkali yang bertanggungjawab (macam aku :3) kalah jumlah. Jadilah negara dan rakyat dipimpin serta diwakili orang-orang ngawur.

Tapi jangan sekali-kali kalian menyalahkan pemimpin kalian atas kegagalan mereka. Salahkanlah bangsa kalian sendiri, mengapa memilihnya.

Eniwei.

Tadi siang aku ke TPS dekat rumahku di mana aku terdaftar, dan memberikan partisipasi sukarelaku meski seharusnya aku bahkan belum cukup umur untuk melakukannya. Tapi, hei, itu bukan masalah. Oke, aku dikasih tanggung jawab yang belum siap kuemban, tapi toh waktu aku lahir juga aku belum siap tempur, kan?

Dan AAAAAARRRGGGHHHHHH ada yang nonton Mata Najwa malam ini? Siaran khusus empat jam! Tapi aku malah ke luar rumah. Yah, bela-belain ke warnet demi nulis ini doang sih, ahahaha.

Apa yang tadi mau kuomongin? Ah, entahlah, aku lupa lagi. Keyboard jahanam ini benar-benar menguji kesabaranku. Mereka apain sih sampai sekeras ini? Bedebah. AGH!

Oh, ya. Aku tadi siang juga melihat tweet salah seorang temanku yang berkata, kira-kira, "Fiuh, selesai juga pemilu pertama. Deg-degan nih, tadi milihnya udah kayak waktu TO aja pake capcipcup, hahaha."

What the hell?

Perlu kalian ketahui, dia kira-kira tiga atau empat tahun lebih tua dariku. Secara mental mungkin seharusnya lebih dewasa, tapi coba lihat. Banyak orang yang tidak memahami seberapa pentingnya pemilu yang dilaksanakan lima tahun sekali ini. Kuulangi lagi ya, orang-orang yang kalian pilih juga menentukan NASIB KALIAN, SANAK FAMILI, TEMAN-TEMAN, DAN BANGSA KALIAN! Bukan sekadar nama dan nomor urut yang kalian bolongi. Dan seandainya kalian memang memilih untuk tidak memilih, atau memilih dengan asal-asalan, JANGAN salahkan mereka jika ternyata mereka melenceng dari jalur yang seharusnya. Kalau kalian tidak melaksanakan kewajiban kalian dengan sungguh-sungguh, kenapa mereka harus? Jangan merasa diri pantas menghakimi dan menyalahkan pemerintah kalau waktu pemilu sendiri asal-asalan. Itu namanya munafik dan lempar batu sembunyi tangan!

Apalagi mereka yang rela menjual suaranya demi beberapa rupiah atau beberapa kilo sembako. Aduuhh, zaman mungkin memang sudah susah, tapi mereka membeli suaramu dengan apa, sih? "Dua lembar uang, dua kg minyak, lima kg beras, gula, dan tak ketinggalan kaos partai yang kalau ditotal, kira-kira hanya Rp150.000,00/2-5 hari kebutuhan hidup. Padahal, satu suara berharga lima tahun kebutuhan hidup." [MetroTV]

Semurah ITUKAH suara kalian?

Yang seperti itu sih cara menghadapi yang paling nikmat, ambil aja semuanya, tapi jangan pilih orangnya. Tapi yang paling etis, gak perlu diterima, toh sumber uangnya juga gak jelas. Ingat-ingat muka dan/atau namanya, ke TPS, dan jangan pilih dia. Gunakan hak pilih kita menuruti hati nurani atau hasil riset (ada lho yang riset; salut untuk partisipasinya!).

Dan aku tahu ini udah terlambat, toh dalam beberapa jam pesta demokrasi lima tahun sekali ini akan berakhir, tapi kuharap para calon pemilih muda dan tua di luar sana akan baca tulisan ini dan tolong, tolong, tolong sadari betapa waktu beberapa menit kalian di TPS dalam berpengaruh begitu BESAR. Bahkan kalau kalian nggak ingin memilih, jangan menjadi golongan putih. Srsly, dalam beberapa jam masa depan kalian ditentukan dan kalian malah leha-leha di rumah dengan alasan gak tau mau milih siapa sementara surat suara yang terbengkalai itu malah disalahgunakan. Terus, waktu ada masalah begini-begitu, kalian ikut-ikutan turun ke jalan menyuarakan 'aspirasi' penuh kekerasan (dan bikin macet lalu lintas--INI YANG PALING NYEBELIN! Apalagi kalau udah ngerusak properti; katanya mewakili rakyat, tapi kok malah ngerusak lahan rakyat?) padahal ikut dalam pesta demokrasi pun nggak. Sekali lagi, itu namanya hipokrit dan semut di seberang nampak gajah di pelupuk nampak.

Jadi, selamat ketar-ketir menunggu hasil pesta demokrasi hari ini! Semoga mereka yang terpilih menjadi wakil rakyat bukanlah juara diam, juara he-eh, dan juara 'ha-ha-ha'!

#BanggaBerjariUngu #JariUnguIndonesia #Selfinger #Mainstream_Elah #Hashtag #TerlaluBanyakHashtag #IniBukanInstagram #JanganBodohKamu

Sunday, 6 April 2014

Kesalahan Sistem atau Semata Karena Ini Minggu?

Brengsek.

Brengsek, brengsek, brengsek. Sistem brengsek. Brengsek.

Orang tolol macam apa yang memasukkan seorang gadis berusia 16 tahun dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) pemilu 2014?

Brengsek.

Oke, jadi menurut beberapa kalian that's a rough opening, full with cuss words. Tapi biar kukasih tahu, ya, seorang pemilih dalam pemilu itu, nggak sekadar nyoblos. Mereka juga punya tanggung jawab.

Dan, sialan, memangnya dikira aku udah siap nanggung tanggung jawab sebesar itu.

Seorang pemilih, nggak cuma melubangi foto atau nama dalam surat suara. Dia menentukan bagaimana nasib negaranya untuk lima tahun ke depan. As much as it sounds exaggerated, memang begitu kenyataannya. Dalam negara yang menganut paham demokrasi, dalam pemerintahan, bukan hanya para pemerintahlah yang bertanggungjawab, namun juga rakyatnya. Maksudku, kalau kamu milih seseorang jadi pemimpin terus dia gagal dengan menyedihkan, pertama-tama itu bukan salah dia, dong. Itu kesalahan yang kedua karena gagal memimpin. Kesalahan pertama ya salah pemilihnya, milih pemimpin kok yang bego.

Dan sialan sialan sialan aku merasa tertekan tertekan tertekan.

Ooooohhhhhh siapa yang bakal kupilih? Gimana kalau yang kupilih ternyata terpilih terus nggak becus? Gimana kalau yang kupilih nggak kepilih dan yang terpilih adalah politikus dengan IQ dan EQ setara kaus kaki basah bekas dipakai delapan minggu? Gimana kalau mendadak ada kudeta pemerintahan? Gimana kalau orang-orang menyerang kantor DPD, DPRD, dan DPR terus mengonfrontasi orang yang kupilih? Gimana kalau orang itu terus bilang bahwa bukan salah dia kepilih tapi itu salah orang-orang yang milih dia? Gimana kalau massa melacak siapa aja yang milih dia dan mereka nyampe ke aku? Gimana kalau aku disalib? Gimana kalau aku malah dimutilasi dan dagingku dijadiin rendang? Ya Tuhan aku benci rendang. Gimana kalau aku dikurung di dalam ruangan super gelap kedap udara dan dibiarin mati kehabisan udara? Gimana kalau ya Tuhan.

Gimana kalau aku golput?

Tuhan tahu itu termasuk pilihan dan hak demokrasi. Tapi gimana kalau surat suara yang disiapkan khusus untukku itu malah dipake orang-orang gak bertanggungjawab untuk nambah-nambahin suara buat caleg tertentu terus orang itu kepilih dan caleg itu tuoluolnya minta uampun dan koruptor? Berarti jangan ada surat suara yang tersisa. Golput pilihannya, tapi menelantarkan surat suara bukan pilihan.

Oke fix Rabu nanti aku ke TPS bawa spidol bergiltter terus tulisin di surat suaraku aja.

Terus pas udah beres dan aku lagi nyelupin kelingking, aku bakal senyum manis sampe bikin yang liat diabetes sambil bilang, "Eh, eh, Juli nanti aku enam belas lho. Jangan lupa kadonya ya."

Aw!

N.B: FYI aja, mereka juga menghinaku dengan salah mengeja namaku. Itu penghinaan tertinggi. Rajanya raja penghinaan.

Wednesday, 2 April 2014

Captain America: The Winter Soldier

Aww look at that blonde dude over there looking all sexy and dangerous and enough everything to pass a girl's wet dream's quality test.

Hey, I got hormones over here. And, yes, we girls do have dreams. Wet dreams. It's just not as messy as guy's.

Tahu nggak, waktu kemarin kubilang aku mempertimbangkan blog ini kuubah menjadi blog review, nggak kusangka aku benar-benar mempertimbangkan ide gila itu.

Tapi, hei, aku kan emang gila.

Jadi hari ini aku nonton film kedua Captain America. Film pertamanya sih aku nggak nonton, tapi karena ini settingnya setelah Avengers, kurasa aku bisa ngejar. Dan memang bisa kok. Atau kurasa begitu. Dan harusnya aku mengurus fanbase, tapi kalau aku diberi kesempatan untuk melihat Chris Evans di layar lebar selama dua jam aku pasti melewati standar 'gila' kalau menolak.

HELL YES!!

Oh, dan kalau kalian belum menonton film satu ini dan benci spoiler alias bocoran cerita, mending pergi jauh-jauh. Jangan baca sampai tuntas because I won't hold back.

Kalau aku nggak salah, ceritanya dimulai dengan Steve Rogers yang lagi jogging. Yah, kalau berlari sekitar 20 km selama 30 menit itu jogging. Omong-omong, Rogers bikin semacam mantan perwira AU keki gara-gara setiap kali lewat, dia selalu bilang, "On your left."

Di situlah Rogers bertemu Sam Wilson.

Kemudian Nick Fury diserang oleh polisi I don't know why probably because he's being an ass almost all the fucking time. Dan menurutku, kalau seorang pria ke mana-mana pakai duster dan bot, dia memang pantas dihajar. Mm-hm.

Oh ya, habis diserang, Nick Fury mati, lho. Nggak nyangka, ya.

Yeah, yeah, even an ass doesn't deserve that kind of death, apalagi pemimpin S.H.I.E.L.D.; itu kan menurunkan martabat banget. Tapi bahkan di malam sebelum kematiannya - atau begitulah yang kupikir - Nick memberikan misi pada Rogers dan Romanoff, di mana Romanoff bertindak di luar perintah Rogers demi menyimpan data-data S.H.I.E.L.D. dari kapal tempat mereka melaksanakan misi atas perintah Fury. Sewaktu Rogers mengonfrontasi Fury soal ini, dia cuek aja tuh.

Kubilang juga apa kan, dia tuh nyebelin.

Satu dan lain hal terjadi, Nick Fury mati, Captain America alias Steve Rogers menjadi buronan along with Black Widow alias Natasha Romanoff. Mereka ke New Jersey untuk menganalisa isi flashdisk yang Fury berikan pada Rogers di saat-saat terakhirnya. Dan ternyata, ada organisasi rahasia dalam S.H.I.E.L.D.. Whoa, organisasi dalam organisasi? Keren.

Could be better, but it's a Marvel average. Tambahan, musuh Rogers dalam film ini dengan mudah ditebak identitasnya. Satu-satunya yang bikin aku bertahan, adalah, well, you know, Chris Evans.

Hei, tiga dari lima bintang itu nggak buruk juga, kan.